Lombokpost- Wakil Bupati Lombok Timur (Lotim) Moh. Edwin Hadiwijaya, merasa prihatin dengan kasus Stunting di Lotim, yang saat ini menduduki posisi tertinggi di NTB. Hal itu ditegaskan pada saat menghadiri sekaligus membuka Sosialisasi Pencegahan dan Penurunan Stunting di Lotim.
"Terdapat tujuh desa yang angka prevalensi stuntingnya berada di atas 40 persen. Ketujuh desa ituadalah Sakra Selatan, Kertasari, Kabar, Teros, Sikur Selatan, Penede Gandor, dan Jantuk, " Terang Wabup Lotim Moh. Edwin Hadiwijaya, Sabtu (14/3).
Pencegahan stunting tidak cukup dari pemenuhan gizi, tetapi harus diperhatikan dari faktor lingkungan sekitar. Kehadiran program Makan Bergizi Gratis (MBG), disebut menjadi salah satu bentuk intervensi untuk pemenuhan gizi masyarakat.
Baca Juga: Empat Anak Stunting di Lombok Tengah Disorot Gubernur Iqbal
Lebih lanjut, Wabup juga menyoroti persoalan data penerima bantuan sosial. Ia menjelaskan bahwa saat ini sasaran penerima manfaat ditentukan berdasarkan data Desil dengan 39 kriteria yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik.
"Kami meminta kepada para kepala wilayah (kawil) dan seluruh lapisan masyarakat untuk turut serta mengawal proses pembaruan data, " Katanya.
Data ini dinilai sangat berpengaruh dan menentukan tepat atau tidaknya sasaran yang akan menerima manfaat.
Baca Juga: PKK Lobar Gencarkan Gerakan Menanam di Pekarangan, 5.000 Kader Diberdayakan Tekan Stunting di Desa
Sementara itu, H. Lalu Hasan Rahman mengucapkan terima kasih dan apresiasi kepada seluruh masyarakat yang telah meluangkan waktu untuk hadir dalam acara silaturahmi sekaligus sosialisasi ini. Ia berharap materi yang disampaikan dapat diterima dengan baik dan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.
"Diharapkan ilmunya bisa membantu dalam upaya percepatan pencegahan dan penurunan stunting di daerah kita. Ini adalah program tahunan yang menyasar langsung masyarakat, dan kita akan terus kawal bersama," tutupnya.