LombokPost - Kepala Dinas Pertanian Lotim Lalu Pathul Kasturi menyebut puncak panen raya padi di Lombok Timur diperkirakan terjadi pada pertengahan April. Sejumlah alat mesin pertanian telah disiapkan untuk membantu petani saat panen.
"Kita sudah pinjamkan mesin panen padi kepada kelompok tani. Tapi, jumlah mesin yang kita miliki sangat terbatas, dibandingkan dengan luas lahan padi yang akan dipanen," katanya.
Luas lahan tanam padi pada MT 1 ini sebanyak 35 ribu hektare. Hampir semua lahan pertanian di luar lahan jagung pada MT 1 ini dimanfaatkan untuk menanam padi. Sehingga Lotim sangat membutuhkan tambahan alsintan.
Menurutnya, selain efektivitas panen, penggunaan mesin panen juga dinilai lebih murah. Jika menggunakan tenaga manusia ongkos panen berkisar antara Rp 100 ribu-Rp 150 ribu per kuintal. Sementara jika menggunakan alsintan hanya Rp 70 ribu.
"Kita sudah mengirim proposal kepada pemerintah pusat untuk meminta tambahan alsintan. Karena luas lahan kita cukup luas tidak cukup dengan alat kita saat ini," katanya.
Untuk hasil produksi gabah pada MT 1 ini, Distan Lotim menyebut angkanya mencapai 8 ton per hektare. Artinya, ada sekitar 280 ribu ton gabah yang dipanen pada MT 1 untuk Kabupaten Lombok Timur.
”Rata-rata sekitar 8 ton per hektarenya,” tandasnya.
Sementara itu, petani dari Desa Rumbuk Timur, Rusman mengatakan, pada tahun lalu, di periode yang sama, hasil panen paling tinggi mencapai 7 ton per hektare. Kondisi itu disebabkan ketersediaan air yang kurang. Hal itu mengakibatkan jadwal tanam menjadi mundur dan benih yang ditanam kurang berkualitas.
"Kalau dulu benih sudah tua, air tidak ada. Mau menyemai ulang takut semakin telat untuk menanam. Makanya mau tidak mau benih yang tua itu kita tanam, sehingga kurang maksimal hasilnya," jelasnya.
Selain peningkatan hasil panen, harga gabah disebutnya mengalami peningkatan. Pada tahun lalu, harga 1 kuintal Rp 550 ribu, sementara di tahun ini mencapai Rp 650 ribu. Meskipun diakui tahun lalu harga Pembelian Pemerintah (HPP) melalui Bulog juga sebesar Rp 650 per kuintal.
Ditegaskan, selama dua tahun ini, Bulog tidak pernah turun membeli gabah di petani. Sehingga sebagian besar petani menjual gabah mereka ke pengepul atau masyarakat dengan harga yang lebih murah dari HPP.
"Khusus di wilayah subak Kuang Derek sejauh ini belum pernah kami lihat Bulog turun membeli gabah petani," jelasnya.
Selain itu, ia juga mengeluhkan sulitnya mendapatkan pupuk subsidi terutama pupuk urea, meskipun sudah ada jatah yang didapatkan. Pembelian pupuk urea subsidi melalui kelompok dilakukan dengan sistem bundling dengan pupuk lain. Padahal pupuk tambahan tersebut tidak dibutuhkan petani.
"Kalau kita ambil gandengannya sia-sia tidak bisa dipakai. Harga di kelompok Rp 180 per kuintal tapi harus dibeli dengan gandengannya. Kalau di tempat lain Rp 250 ribu per kuintal," katanya. (par/r7)
Editor : Prihadi Zoldic