Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

TAK HANYA DI LOMBOK! Menelusuri Jejak Tradisi Lebaran Ketupat di Penjuru Nusantara: Simbol Kesucian Hati dan Kebersamaan

Nurul Hidayati • Jumat, 27 Maret 2026 | 16:20 WIB

MERAYAKAN: Ratusan ketupat yang akan diperebutkan masyarakat saat puncak perayaan Lebaran Topat di Pantai Loang Baloq, Senin (7/4).
MERAYAKAN: Ratusan ketupat yang akan diperebutkan masyarakat saat puncak perayaan Lebaran Topat di Pantai Loang Baloq, Senin (7/4).

LombokPost - Bagi masyarakat di Pulau Lombok, perayaan Lebaran Topat pada 7 Syawal adalah momen sakral yang seringkali lebih meriah dari Idulfitri itu sendiri.

Namun, tahukah Anda? Tradisi merayakan rampungnya puasa sunnah enam hari di bulan Syawal ini ternyata berakar kuat di berbagai penjuru Indonesia dengan keunikan budayanya masing-masing.

Ketupat, yang secara filosofis bermakna "ngaku lepat" (mengakui kesalahan), menjadi simbol pemersatu dari Jawa hingga Sulawesi dalam merayakan kemenangan spiritual yang paripurna.

 Baca Juga: Pemkab Lombok Tengah Pusatkan Perayaan Lebaran Topat di Bencingah Agung

Kemeriahan di Tanah Jawa: Gunungan dan Lopis Raksasa

Di wilayah Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jawa Barat, perayaan ini lebih dikenal dengan sebutan Syawalan. Di beberapa kota, tradisi ini dirayakan dengan skala besar.

Kudus dan Jepara: Masyarakat mengarak gunungan ketupat dalam iring-iringan meriah sebagai bentuk rasa syukur atas rezeki dan keselamatan.

Pekalongan: Ada yang unik di Kota Batik, yakni tradisi memotong Lopis Raksasa. Lopis yang lengket menjadi simbol eratnya tali silaturahmi dan kebersamaan antarwarga.

Yogyakarta: Keraton Yogyakarta menggelar Grebeg Syawal, sebuah ritual budaya kental di mana gunungan hasil bumi diperebutkan warga sebagai simbol berkah dari Sultan.

Ragamnya tradisi dalam menyambut Syawalan ini rutin digelar setiap tahunnya di setiap daerah.

 Baca Juga: Lebih Meriah, Perayaan Lebaran Topat Bakal Digelar di Pasar Seni Senggigi

Binarundak: Aroma Nasi Jaha di Sulawesi Utara

Bergeser ke arah timur, tepatnya di Kelurahan Motoboi Besar, Sulawesi Utara, terdapat tradisi Binarundak.

Berbeda dengan Jawa yang identik dengan ketupat, warga di sini memasak Nasi Jaha (beras ketan dalam bambu) secara massal selama tiga hari berturut-turut setelah Lebaran. Aroma sedap dari pembakaran bambu ini menjadi penanda kuatnya rasa persaudaraan di wilayah tersebut.

Filosofi Ketupat: Pengakuan Kesalahan

Meski bentuk perayaannya berbeda ada yang berziarah ke makam keramat seperti di Loang Baloq Lombok, ada yang mengarak gunungan, hingga memasak bersama esensinya tetap satu.

7 Syawal adalah momen pengakuan kesalahan (lepat) dan kembalinya hati ke fitrah yang suci. Tradisi makan bersama dan bersedekah ketupat merupakan manifestasi dari kerendahan hati untuk saling memaafkan setelah sebulan penuh berpuasa dan dilanjutkan dengan enam hari puasa Syawal.

Refleksi bagi Masyarakat

Informasi ini mempertegas bahwa keberagaman tradisi di Nusantara memiliki benang merah yang sama.

Bagi masyarakat di Nusa Tenggara Barat, melihat kemiripan tradisi ini adalah pengingat bahwa kita adalah bangsa yang besar dengan fondasi spiritual yang kuat.

Lebaran Topat di Lombok memang ikonik, tapi mengetahui bahwa saudara di Jawa dan Sulawesi juga merayakan hal yang sama dengan cara mereka sendiri membuat merasa lebih dekat sebagai satu bangsa.

Jadi, ketika menyantap hidangan ketupat di pinggir pantai atau di rumah kerabat pada 7 Syawal nanti, ingatlah bahwa jutaan orang di seluruh Nusantara tengah melakukan hal yang sama: merayakan kesucian hati dengan penuh rasa syukur.

Editor : Kimda Farida
#jawa #sulawesi #lebaran #syawal #Ketupat