alexametrics
Senin, 15 Agustus 2022
Senin, 15 Agustus 2022

Jelang PON, KONI NTB Antisipasi Situasi Buruk

MATARAM-Pengalaman adalah guru terbaik. Itu harus menjadi pegangan KONI NTB mengantisipasi situasi buruk menjelang PON. Seperti perpindahan sejumlah atlet andalan. Di antaranya kroser muda Nakami Vidi Makarim serta sprinter putri Suhaya dan Fifit Marlena.

Ada juga persoalan Kurniawan.  Atlet tarung derajat yang ditargetkan medali emas itu tak mampu dipulangkan ke NTB. Saat ini si Belalang (julukan Kurniawan) bertugas di Direktorat Ajudan Jenderal Angkatan Darat (Ditajenad), Bandung Jawa Barat (Jabar).

Wakil Ketua komisi V DPRD NTB H MNS Kasdiono mengatakan, KONI harusnya bisa mengantisipasi. ”KONI harus berhati-hati jangan sampai pengalaman PON sebelumnya terulang kembali,” kata Kasdiono kepada Lombok Post, kemarin (19/2).

KONI harus dapat mem-protect atlet lain. Supaya keinginan mereka untuk pindah menjelang PON diurungkan. ”Pendekatan humanis dengan cabor, atlet, dan pelatih harus diperkuat,” ujarnya.

Persoalan atlet yang pindah ke daerah lain sering terjadi.  Contohnya Suryo Agung pada PON Riau 2012 silam. Kala itu, pemegang rekor Asia Tenggara itu dipersoalkan. Jawa Tengah dan DKI ribut memperebutkan Suryo Agung.

Baca Juga :  Proses Seleksi Tuntas, PB ESI Tetapkan Sepuluh Pelatih untuk Sea Games

Karena ribut, Suryo Agung tak diizinkan turun di PON. Kondisi itu menguntungkan NTB yang kala itu sprinternya diunggulkan setelah Suryo Agung. “Hasilnya, kita bisa meraih medali emas,” ujarnya.

Nah, sekarang kondisinya berbeda. Nakami, atlet potensial asal NTB yang pindah ke Papua. Jika NTB dan Papua sama-sama mengklaim dan melakukan protes, tentu akan merugikan atlet. ”Bisa-bisa Nakami tidak bisa turun di PON. Akhirnya, yang rugi bukan saja Papua dan NTB. Melainkan atletnya,” papar mantan ketua KONI NTB ini.

Sedangkan persoalan Kurniawan pernah dirasakan pada PON 2012. Bagaimana KONI NTB berjuang memulangkan Arif Rahman ke NTB. ”Dengan melakukan pendekatan humanis kita bisa pulangkan Arif,” kata dia.

Namun, jangan sampai persoalan Kurniawan seperti Fatoniah. Sprinter putri yang menjadi anggota TNI dan bertugas di Jabar itu gagal dipulangkan ke NTB. ”Akhirnya apa, Fatoniah membela Jabar di PON Riau,” ungkapnya.

Kasdiono pernah berbicara langsung dengan Danrem 162/WB di tiap rapat. Tiap atlet yang menjadi anggota TNI harus dipindahtugaskan ke NTB. “Jangan sampai sejarah buruk terulang kembali,” ujarnya.

Baca Juga :  Karateka NTB Zigi Akan Perkuat Indonesia di SEA Games Vietnam 2022

Politisi Partai Demokrat itu meminta KONI untuk berjuang. Memikirkan target 17 medali emas bukan melulu pencanangan program latihan. ”Faktor nonteknis harus juga dipikirkan,” tegasnya.

KONI berkoordinasi dengan Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) bersurat ke gubernur. Mereka harus meminta pemulangan Kurniawan secepatnya. ”PON sudah semakin dekat,” ujarnya.

Ketua KONI NTB H Andy Hadianto mengatakan, apa yang disampaikan Kasdiono itu benar. Tetapi, semua itu sudah dilakukan KONI.  ”Kita melakukan pendekatan dengan semua penggiat olahraga,” kata Andy.

Terkait perpindahan Nakami, KONI NTB menegaskan tidak pernah memberikan rekomendasi. Apalagi, menyetujui perpindahannya. ”Kita tegas menolak pindahnya Nakami,” tuturnya.

Menurutnya, pindahnya Nakami tidak sesuai prosedur. Seharusnya, perpindahan atlet harus mendapatkan rekomendasi dari KONI provinsi. ”Sampai PON nanti kita tidak akan mengeluarkan rekomendasi itu,” tegasnya.

Terkait persoalan Kurniawan, KONI juga sudah berjuang. Mereka bersurat resmi ke Ditajenad.

KONI berencana akan berkoordinasi dengan Dispora selaku perwakilan Pemprov NTB. Mereka akan bersurat kembali ke Mabes TNI. ”Kita meminta Kurniawan dipindahtugaskan ke NTB,” katanya. (arl/r1)

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications    OK No thanks
/