LombokPost - Kenangan akan masa-masa sulit Arsenal saat masih diperkuat pemain seperti David Luiz hingga Shkodran Mustafi mungkin mulai pudar. Namun, Mikel Arteta diingatkan kembali pada proses "pembersihan" skuad yang pernah ia lakukan, termasuk saat ia bersikap kejam dengan melepas Alexandre Lacazette. Kini, situasi serupa tampaknya sedang menimpa Gabriel Jesus.
Gabriel Jesus kini disebut-sebut sebagai 'The New Lacazette' di skuad Meriam London, namun dalam konteks yang negatif. Penyerang asal Brasil tersebut mulai kehilangan tempat utama di lini depan Arsenal seiring dengan kembalinya performa Kai Havertz dan mulai nyetelnya Viktor Gyokeres di Premier League. Kondisi ini membuat masa depan Gabriel Jesus di Emirates Stadium menjadi tanda tanya besar.
Padahal, di awal musim, kehadiran Gabriel Jesus sempat menjadi angin segar bagi Arsenal saat badai cedera menyerang. Mantan pemain Manchester City tersebut sempat tampil tajam dengan mencetak gol ke gawang Inter Milan hingga Aston Villa. Namun sayang, konsistensi lagi-lagi menjadi musuh utama bagi Gabriel Jesus. Dalam enam pertandingan terakhir di Liga Inggris, ia bahkan tidak pernah lagi masuk dalam jajaran starting line-up pilihan Mikel Arteta.
Situasi Gabriel Jesus saat ini dinilai sangat mirip dengan apa yang dialami Alexandre Lacazette sebelum akhirnya ditendang oleh Arsenal. Lacazette kala itu juga kehilangan tempatnya dan lebih banyak duduk di bangku cadangan sebelum kontraknya berakhir. Direktur olahraga Arsenal, Andrea Berta, kini didesak untuk segera mengambil tindakan tegas dengan menjual Gabriel Jesus pada bursa transfer musim panas mendatang guna mendapatkan dana segar.
"Arsenal harus belajar untuk menjual pemain bintang di waktu yang tepat dengan harga yang tinggi. Gabriel Jesus yang dibeli seharga £45 juta (sekitar Rp 900 miliar) seharusnya bisa memberikan keuntungan finansial sebelum nilainya semakin turun," demikian laporan yang beredar mengenai strategi transfer Arsenal.
Meskipun Gabriel Jesus memiliki momen-momen indah, seperti brace heroiknya di San Siro atau gol kemenangan dramatis melawan Wolves musim lalu, Arsenal dianggap perlu melakukan regenerasi. Mikel Arteta harus menemukan kembali sisi "ruthless" atau sifat kejamnya dalam membangun skuad demi ambisi meraih gelar juara Premier League yang lebih konsisten. Jika Arsenal berhasil meraih trofi musim ini, itu dianggap sebagai momen perpisahan yang paling manis bagi Gabriel Jesus.
Selain nama Gabriel Jesus, beberapa pemain lain seperti Leandro Trossard hingga Gabriel Martinelli juga tak luput dari pengamatan manajemen Arsenal terkait performa mereka yang fluktuatif. Namun, kasus Gabriel Jesus menjadi yang paling mendesak karena perannya yang mulai dikesampingkan oleh Mikel Arteta dalam beberapa pekan terakhir.
Dengan ambisi besar Arsenal untuk tetap bersaing di level tertinggi, menjual Gabriel Jesus mungkin menjadi keputusan pahit namun rasional yang harus diambil. Akankah Gabriel Jesus benar-benar mengikuti jejak Lacazette meninggalkan London Utara? Kita tunggu saja pergerakan Mikel Arteta di bursa transfer nanti.
Editor : Pujo Nugroho