alexametrics
Senin, 21 September 2020
Senin, 21 September 2020

Warga Minta Bantuan Dalam Bentuk Uang

TANJUNG-Janji Presiden RI Joko Widodo yang menyebut bantuan gempa senilai Rp 50 juta dapat dikelola secara swadaya dan sisanya dijadikan modal usaha memantik sejumlah warga menolak skema DSP BNPB. Di Kabupaten Lombok Utara (KLU) terdapat sejumlah warga yang memilih keluar dari mekanisme pokmas bentukan pemkab dan membentuk pokmas uang.

Fakta itu tidak disangkal Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) KLU. Kepala Bidang Rehab Rekon BPBD KLU Wardoyo mengaku ada ratusan warga yang memilih keluar dari pokmas bantuan gempa. Mereka meminta agar bantuan pembangunan rumah tersebut dikelola sendiri. Hal ini sesuai dengan janji presiden saat berkunjung ke KLU, pascagempa tahun lalu.

“Saya berupaya meyakinkan warga ini untuk membentuk pokmas. Mereka sebelumnya ingin agar bantuan tersebut berupa uang, yang nanti digunakan untuk membangun rumah. Sementara sisanya digunakan jadi modal usaha,” ungkap Wardoyo saat menjadi pembicara pada workshop media yang digalang LSM Gravitasi Mataram di Lesehan Sasak Narmada, Tanjung, Sabtu lalu (3/8).

Hingga saat ini diakui masih banyak warga yang meminta bantuan pembangunan rumah dalam bentuk uang. Sehingga sisanya bisa dimanfaatkan untuk modal usaha. Permintaan ini disampaikan ratusan warga di wilayah Pemenang Barat. Mereka tergabung dalam pokmas uang, dan tetap menunggu bantuan pemerintah dalam bentuk uang tunai.

“Mereka sudah membentuk pokmas uang. Jadi seperti itulah rumitnya meyakinkan masyarakat,” katanya.

Wardoyo menjelaskan, banyak dinamika dan kendala yang dihadapi BPBD dalam proses rehab rekon pascagempa. Tidak hanya keinginan warga, BPBD juga dipusingkan oleh data NIK dan KK yang memerlukan validasi ulang, persoalan bantuan untuk warga berstatus jomblo, validasi jenis kerusakan, keterbatasan fasilitator, hingga bentuk rumah yang direkomendasikan oleh pemerintah.

Bahkan di awal tahap transisi, BPBD menghadapi kerumitan dari korban bencana dalam membentuk pokmas. Warga saat itu enggan membentuk pokmas. BPBD pun memerlukan waktu sampai 3 bulan untuk meyakinkan masyarakat.

“Jadi sudah kami komunikasi kan langsung BNPB selaku user yang ada di pusat. Jadi kami berprinsip, tidak ada masyarakat Korban yang akan di korbankan,” pungkasnya. (fer/r4)

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Simulasi KBM Tatap Muka SMA Sederajat di NTB Pekan Kedua Dimulai

Simulasi KBM tatap muka untuk SMA sederajat di NTB memasuki pekan kedua. ”Sambil kami tetap memantau perkembangan penyebaran Pandemi Virus Korona,” kata Kepala Dinas Dikbud NTB H Aidy Furqan, pada Lombok Post, Minggu (20/9/2020).  

Mendikbud Pastikan Wacana Penghapusan Mapel Sejarah Hoaks

”Tidak ada sama sekali kebijakan regulasi atau perencanaan penghapusan mata pelajaran sejarah di kurikulum nasional,” tegas dia.

HARUM Goda Pemilih Millenial Lewat Lomba Film Pendek dan E-Sport

Bakal Calon Wali Kota Mataram H Mohan Roliskana mencoba menggoda pemilih milenial. Caranya, dengan menggelar film pendek dan e-sport. "Orang yang menggeluti dunia film tidak banyak. Bagi sebagian orang ini ekslusif. Prosesnya panjang," kata Mohan Sabtu malam (19/9) lalu.

Cerita Shaina Babheer saat Memerankan Sosok Kikin dalam film MOHAN

Shaina Azizah Putri dipilih untuk memerankan sosok Kikin Roliskana dalam film pendek berjudul "Mohan". Ini menjadi tantangan baru bagi dara yang sudah membintangi beberapa sinetron dan FTV nasional ini.

“Menara Eiffel”di Desa Seruni Mumbul Lombok Timur Ramai Pengunjung

Pengelola wisata Denda Seruni, Desa Seruni Mumbul, Kecamatan Pringgabaya tak ingin puas dengan keberhasilannya menyedot wisatawan. Realisasi target PADes Rp 30 juta per bulan harus dapat bertambah.

Bale Mediasi Lotim Damaikan Delapan Perselisihan

SELONG-Permohonan mediasi terus berdatangan ke Bale Mediasi Lotim. “Sudah ada 36 permohonan yang masuk,” kata Koordinator Administrasi Bale Mediasi Lotim Lalu Dhodik Martha Sumarna pada Lombok Post, kemarin (18/9).

Paling Sering Dibaca

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Siswa SMP di Loteng Menikah, Kenal Lewat HP, Pacaran Cuma Empat Hari

Meski belum cukup umur, Suhaimi dan Nur Herawati telah resmi menjadi pasangan suami istri. Bagaimana kisahnya sampai mereka memutuskan menikah? Berikut ulasannya.

Bantuan Uang Tunai untuk Warga Terdampak Korona Diperpanjang Sampai Desember

JAKARTA–Pemerintah memutuskan untuk memperpanjang pemberian bansos. Awalnya, bansos hanya diberikan tiga bulan dari April sampai Juni, namun akhirnya diperpanjang hingga Desember 2020. Sehingga, total...

Di Tengah Pandemi Korona, Dua Murid SMP di Lombok Tengah Menikah

Saat sekolah tak kunjung dibuka karena Pandemi Korona dua pelajar SMP di Lombok Tengah memilih untuk melangsungkan pernikahan Sabtu (12/9) lalu. Mereka adalah Suhaimi, kelas 2 SMP asal  Desa Pengenjek, Kecamatan Pringgarata menikahi Nur Herawati, kelas 1 SMP.

Film MOHAN, Ini Dia Official Teasernya

Rumah Produksi Warna tengah merampungkan pembuatan film MOHAN. Film bergenre drama remaja tersebut tengah memasuki fase shooting. Namun demikian sebagai bocoran Warna telah meluncurkan cuplikan Official Teaser nya.
Enable Notifications    Ok No thanks