alexametrics
Kamis, 18 Agustus 2022
Kamis, 18 Agustus 2022

Gili Tramena Sudah Indah, Tak Butuh Ayunan Liar

Berpotensi Rusak Terumbu Karang

TANJUNG-Penertiban bangunan yang melanggar kawasan konservasi mendapatkan dukungan dari masyarakat di Gili Tramena. Jika terus dibiarkan, pembangunan masif di roi pantai dikhawatirkan merusak lamun dan terumbu karang di sana.

”Kesehatan terumbu karang semakin menurun,” ujar Wakil Ketua Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) Gili Tramena Hasanudin, Kamis (4/8).

Penertiban terhadap ayunan di perairan konservasi merupakan salah satu bentuk kepedulian untuk rehabilitasi terumbu karang. ”Kalau di tempat lain menyebutnya konservasi tapi di kami menyebutnya rehabilitasi,” sambungnya.

Penurunan kesehatan terumbu karang disebabkan sejumlah dampak. Mulai dari pemanasan global, pembangunan masif di roi pantai, dan sedimentasi. Pembangunan di Gili Tramena diakuinya rata-rata ditemukan ada di dekat pantai.

”Kurangnya pengolahan limbah oleh pengusaha maupun pemerintah juga bisa mengakibatkan kerusakan ekosistem,” jelasnya.

”Adanya ayunan di sekeliling pantai Trawangan ini akan merusak lamunnya,” imbuh Hasan.

Baca Juga :  Pembangunan Puskesmas Gili Trawangan Lanjut 2023

Padang lamun memiliki peran penting sebagai filter alami untuk sedimen-sedimen tersebut. Ketika lamun rusak, otomatis karang ikut rusak. Akibatnya, jumlah ikan juga ikut berkurang.

”Dampaknya nanti ke semua orang. Baik nelayan maupun pariwisata,” kata Hasan.

Terkait kerusakan terumbu karang, Hasan mengakui itu sudah terjadi sejak lama. Para leluhurnya dulu banyak menggunakan destructive fishing. Seperti pengeboman, penggunaan jaring murami dan lainnya. Hal ini membuat kerusakan terumbu karang sangat parah.

”Kami anak keturunan melakukan rehabilitasi atas kesalahan yang sempat dilakukan orang tua kami dulu,” jelasnya.

Setelah pariwisata masuk, kerusakan terumbu karang akibat ulah manusia mulai berkurang. Hanya saja, aktivitas manusia membuat pertumbuhan terumbu karang berkurang. Hal ini disebabkan aktivitas hunting makanan terumbu karang berkurang.

”Kalau tidak ada aktivitas wisatawan, pertumbuhannya cepat. Seperti saat Korona kemarin,” ujarnya.

Baca Juga :  Pembangunan Kantor Bupati KLU Korbankan Tenaga Kontrak?

Ditambahkan Hasan, pertumbuhan terumbu karang umumnya mencapai satu centimeter per tahun. Namun jika terdapat banyak aktivitas, pertumbuhannya berkurang menjadi setengah centimeter hingga beberapa milimeter saja.

Sebelumnya Koordinator BKKPN Kupang Wilker Gili Tramena Thri Heni Utami Radiman mengatakan, pihaknya berwenang melakukan konservasi sampai pada titik pasang air tertinggi. Artinya, ayunan yang tersentuh air laut juga termasuk.

”Ayunan yang ada pada zona itu memang dilarang, karena itu zona perlindungan penuh, tidak boleh ada aktivitas apalagi sampai ada ayunan,” ujarnya.

Pihaknya pun mendatangi para pengusaha yang memiliki ayunan di zona tersebut. Meminta segera dilakukan pembongkaran. Bahkan ayunan di luar zona itu juga diminta dibongkar karena ilegal.

”Untuk hal itu pun harus ada izinnya melalui OSS,” pungkasnya. (fer/r9)

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications    OK No thanks
/