alexametrics
Kamis, 11 Agustus 2022
Kamis, 11 Agustus 2022

Kisah Para Korban PHK yang Menolak Menyerah di Desa Sokong

Pandemi Covid-19 membuat banyak warga yang tiba-tiba kehilangan pekerjaan di Desa Sokong. Tapi, mereka menolak menyerah. Hasilnya kini, mereka bukannya mencari pekerjaan. Malah mereka justru mencipta pekerjaan.

————————————————————

 

TAUFIK Hidayat adalah korban Pemutusan Hubungan Kerja. Pandemi Covid-19 membuat perusahaan tempatnya bekerja berhenti beroperasi. Semenjak itu, dia pun menjadi pengangguran.

Tapi, Taufik tidak patah arang. Di Lombok Utara, tentulah tidak dia sendiri yang mengalami nasib serupa. Terutama di sektor pariwisata, ada banyak pekerja lain yang juga tiba-tiba kehilangan sumber penghasilan. Pandemi Covid-19 menjadi musababnya.

Bersama empat sahabatnya, Taufik kemudian berkeliling mencari pekerjaan. Kebetulan ada pabrik minyak kelapa murni atau Virgin Coconut Oil di desanya. Tapi tidak lowongan untuk mereka. Sampai akhirnya kemudian Taufik menemukan lahan nganggur di desa tempat tinggalnya. Lahan itu luasnya 69 are. Lokasinya di Dusun Batu Ampar, Desa Sokong, Kecaatan Tanjung. Dulu, lahan itu adalah lokasi tempat pembuangan sampah.

Dari pada mencari pekerjaan, Taufik bertekad mencipta pekerjaan. Bersama empat temannya, dia mengajukan diri untuk menggarap lahan nganggur tersebut. Taufik sudah punya rencana. Yakni menanam lahan itu dengan aneka tanaman hortikultura.

Pekan lalu, Lombok Post melihat langsung lokasi lahan nganggur itu. Aneka tanaman tumbuh subur. Ada tomat. Ada pula cabai. Untuk mengelola lahan tersebut, Taufik membentuk kelompok tani. Diberi nama Kelompok Tani Berkah. Taufik sebagai ketuanya.

“Meski dadakan kita lakukan, tapi alhamdulillah sukses,” kata Taufik pada Lombok Post.

Memang belum panen. Namun, jika melihat luas areal tanam dan harga cabai dan tomat yang lagi bagus, Taufik sudah memperkirakan, bahwa hasil panen bisa mencapai ratusan juta rupiah.

Baca Juga :  Cegah Kecelakaan, Proyek Jalan Pusuk-Pemenang Pangkas Jalur Letter S

“Kita dibantu bimbingan soal pertanian oleh Pemerintah Desa,” terang Taufik.

Di lahan tersebut, kelompoknya menanam tomat bervariasi di tiga titik. Titik pertama seluas 15 are, titik kedua 6 are dan titik ketiga 18 are. Totalnya  sebanyak 39 are. Sedangkan luas lahan untuk cabai ada dua titik. Titik pertama seluas 22 are dan titik kedua seluas 8 are. Total keseluruhannya seluas 30 are.

Cerita Taufik dan kelompoknya, tak ubahnya berkah di balik Pandemi Covid-19. Taufik mampu melihat dan memanfaatkan peluang di sektor pertanian. Salah satu sektor yang memang hingga kini tidak terdampak oleh pandemi Covid-19.

Berkah di balik pandemi inilah yang kini menjadi andalan Desa Sokong untuk ikut dalam Lomba Kampung Sehat yang digelar Polda NTB. “Meski ada pandemi, ekonomi warga kami tetap menggeliat,” kata Pjs Kades Sokong I Nengah Suarjana pada Lombok Post.

Desa Sokong memang punya banyak potensi. Suarjana mengungkapkan, selain penghasil tanaman hortikultura, Desa Sokong kini adalah sentra produksi VCO di Lombok Utara. Warganya juga beternak lebah madu trigona.

“Kita juga punya kelompok masyarakat untuk pengolahan sampah,” kata dia.

Suarjana menuturkan, KSM Pengelolaan Sampah tersebut dibentuk dan dipusatkan di Dusun Karang Nangka. Di sana warga mulai bisa memilah sampah dan ada bank sampah khusus. Anggotanya kini 30 orang.

“Warga kita juga membuat anyaman berupa sendok dan gelas dari tempurung batok kelapa. Mereka juga buat peci dan lain sebagainya,” imbuh dia.

Oh ya. Masih di sektor pertanian. Selain cabai dan tomat Desa Sokong juga ada kelompok tani yang membudidayakan golden melon hidroponik. Golden melon yang dibudidayakan memiliki kelas nomor wahid. Termasuk jenis F1 yang bibitnya diimpor dari Malaysia.

Baca Juga :  Terkait Masalah Penghentian BOSDa, Pemerintah KLU Akui Tak Ada Anggaran

Budidaya melon ini bahkan sudah membangun greenhouse seluas 7 x 20 meter. Jika ditanami dengan bibit F1, greenhouse itu bisa menghasilkan Rp 6 juta-Rp 7 juta per sekali panen.

“Satu kali panen itu bisa sampai 300 kilo. Sekilonya dijual Rp 30 ribu sampai Rp 35 ribu,” katanya.

 

Madu Trigona

 

Potensi lain yang tak kalah menggiurkan di Desa Sokong adalah budidaya madu trigona. Hampir 90 persen warga Desa Sokong juga melakukan budidaya madu trigona ini.

“Bahkan di Dusun Mengkudu, ada 203 KK di sana membudidayakan madu trigona. Pembudidaya mandiri itu paling sedikit 60 stub sampai 350 stub,” katanya.

Harga jualnya madu ini sangat menggiurkan. Satu botol isi 450 ml dijual Rp 150 ribu. Pemasarannya pun tidak susah. Apalagi, permintaan madu di tengah pandemi sangat tinggi.

“Dari Mataram datang ngambil ke sini. Madunya juga dikirimkan ke Jakarta dan daerah lainnya,” ujar Suarjana.

Normalnya, satu stub menghasilkan satu setengah botol madu trigona. Meski lebah sedang tidak kondisi prima pun, masih bisa menghasilkan setengah botol madu dalam satu stub.

Warga memanfaatkan pekarangan sendiri untuk budidaya madu trigona ini. Biasanya panen madu 2-6 bulan sekali. Tergantung kondisi. (fer/r6)

 

Inovasi Desa Sokong

 

  • Manfaatkan puluhan are lahan tidur untuk budidaya tanaman hortikultura.
  • Jadi sentra pengelolaan VCO (Virgin Coconut Oil)
  • KSM Pengelolaan Sampah dan Bank Sampah
  • 90 persen warga desa budidaya madu trigona secara mandiri

 

Sumber: Diolah Lombok Post

 

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications    OK No thanks
/