alexametrics
Selasa, 16 Agustus 2022
Selasa, 16 Agustus 2022

Resiko Stunting Bayangi 29.637 Keluarga di KLU

TANJUNG-Angka kasus stunting KLU masih yang tertinggi di NTB. Berdasarkan data Pemerintah KLU, angka stunting masih sebesar 26,22 persen. Sedangkan keluarga berisiko stunting sebanyak 29.637 keluarga.

”Stunting merupakan PR kita bersama, terutama kita merupakan daerah yang  paling muda,” ujar Wakil Bupati Lombok Utara Danny Karter Febrianto Ridawan, Jumat (5/8).

Dikatakannya, 2020 lalu angka stunting 33,79 persen. Jumlah ini turun menjadi 28,31 persen pada 2021. Kembali terjadi penurunan menjadi 26,22 persen pada 2022.

”Angka kemiskinan maupun jumlah stunting merupakan persoalan yang harus diselesaikan,” sambungnya.

Jumlah keluarga berisiko stunting dengan prevelensi tertinggi berada di tiga kecamatan. Diantaranya di Bayan 22,3 persen, Tanjung 21,7 persen, dan Gangga 21,3 persen.

Baca Juga :   Untuk Masyarakat, KLU Bangun Ulang Empat Pustu

Pemerintah KLU memiliki sejumlah strategi penanganan stunting. Diantaranya penyusunan Perbup dengan Perpres Nomor 72 tahun 2021 dan Perban Nomor 12 tahun 2021.

Juga terdapat sejumlah program untuk desa sasaran. Program ini bekerjasama dengan NGO bidang kesehatan dan gizi. Tak ketinggalan mendorong pihak terkait untuk turut kampanyenya persoalan stunting.

”Penyebab stunting tertinggi di Kabupaten Lombok Utara yaitu karena kurangnya pengetahuan stunting bagi masyarakat,” jelasnya.

Untuk kendala penanganan stunting, diantaranya belum tercukupinya tenaga kesehatan gizi di semua desa. Juga kader yang belum terampil. Kurangnya anggaran di masing-masing OPD terkait juga ikut menjadi kendala. Kemudian komunikasi lintas sektor yang belum maksimal dan intensif serta alat ukur yang belum maksimal teruji di masing-masing posyandu.

Baca Juga :  Mahasiswa KKN Unram Sosialisasi Pencegahan Stunting

”Tentu semua sektor harus bergerak secara bersama-sama,” tandasnya.

Sementara Bupati Lombok Utara H Djohan Sjamsu mengajak semua pihak meningkatkan kepedulian terhadap percepatan penurunan stunting di KLU. Hal tersebut untuk mengejar target nasional 14 persen pada 2024. Hal itu  sesuai dengan amanat Perpres RI Nomor 27 tahun 2021 tentang Percepatan Penurunan Stunting di Indonesia.

”Saya yakin target nasional penurunan angka stunting 14 persen tahun 2024 bisa kita raih,” tegas orang nomor satu di KLU ini.

Mencapai target itu, Djohan menilai dibutuhkan sinergi kekeluargaan, gotong royong, peduli terhadap sesama. Termasuk sinergi dalam kebangkitan yang dilandasi semangat-semangat Tioq Tata Tunaq. (fer/r9)

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications    OK No thanks
/