alexametrics
Rabu, 15 Juli 2020
Rabu, 15 Juli 2020

Butuh Bantuan, Zilvia Bocah Penderita Tumor Tulang asal KLU Dirujuk ke Sanglah

TANJUNG- Zilvia Azoya, bocah perempuan penderita tumor di tulang ekor asal Dusun Kerurak, Desa Segara Katon, Kecamatan Gangga, kembali harus menjalani perawatan di RSUD Sanglah, Bali. Kepastian perawatan itu diperoleh pihak keluarga, usai mendapat telpon dari tim medis RSU Sanglah, Kamis (18/6) lalu.

Ahmad Sarbi dan Zaenab, orang tua Azoya pun mulai bersiap mengurus keberangkatan. Di tengah pandemi, satu keluarga ini harus mengikuti protocol kesehatan untuk mengakses RSUD NTB maupun RS Sanglah. Yakni mengurus surat rujukan dari Puskesmas Gangga, dilanjutkan ke RSUD Tanjung, dan ke RSUD NTB.

”Untuk bisa masuk ke RSUD NTB, kami harus mendapat rekomendasi hasil rapid test. Hari ini kami sedang mengurus itu, dibantu oleh staf Humas RSUD NTB,” cerita Sarbi, kemarin (19/6).

Hasil rapid test akan diterima Sabtuhari ini. Diceritakan, sakit yang diderita anaknya sudah berlangsung dua tahun. Azoya pernah dirawat di Puskesmas Gangga, RSUD Lombok Utara, RSUP NTB dan sekali ke RSU Sanglah.

Saat di Sanglah, putrinya menjalani perawatan tiga bulan lamanya. ”Ke Sanglah sudah dua kali dengan sekarang,” ceritanya.

Saat perawatan pertama, ia disarankan pulang karena harus menunggu sampel jenis penyakit yang dikirim ke Jakarta. Sekarang, hasilnya sudah keluar dan pihaknya datang lagi ke Denpasar.

Selama berada di Sanglah, Sarbi mengaku kewalahan mengimbangi kebutuhan ekonomi. Sebagai pasien BPJS Mandiri, ia harus memeras keringat. Tidak semua prasarana medis tersedia gratis, ada juga yang harus dibeli.

Situasi itu bertambah pelik, lantaran sumber penghasilan selama pandemi Covid-19 relatif minim. Bahkan untuk mengaktifkan kembali BPJS Mandiri, ia terpaksa menggunakan BLT DD.

”Bantuan BLT DD yang Rp 600 ribu sebulan itu saya gunakan untuk menutup BPJS yang tertunggak. Karena sudah tiga  bulan ini tidak bayar,” ujar Sarbi.

Azoya pernah tercatat sebagai penerima BPJS pemerintah daerah. Namun hak itu tidak diperpanjang. Sementara, pada program KLU Sehat, Azoya pernah diusulkan oleh orang tuanya, namun tidak terlayani dengan alasan yang tidak diketahui. Kondisi inilah yang memaksanya mengambil alternatif membuka layanan BPJS Mandiri dengan iuran Rp 25 ribu per bulan.

”Kesulitan ekonomi sudah pasti. Selama Azoya di Bali, sesekali saya pulang untuk menjadi buruh harian,” ceritanya.

”Di penampungan, makan minum kami sudah ditanggung oleh Yayasan Rumah Harapan Indonesia dengan bantuan EF (Endri’s Foundation). Tetapi namanya sakit, ada saja kebutuhan yang harus dibeli,” sebutnya.

Ia berharap, adanya dukungan pemerintah ataupun donatur untuk membantu meringankan beban selama berada di Sanglah. Mengingat dengan keterbatasan ekonomi saat ini, ia harus rela tidak mendampingi anak dan istrinya ke Bali untuk mencari uang tambahan.

”Yang ke Bali Azoya sama ibunya. Saya menyusul, sambil mencari rezeki untuk biaya seadanya selama di sana,” pungkas dia. (fer/r9)

 

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Korona Tinggi, Pola Pencegahan Covid 19 di Mataram Perlu Dievaluasi

emkot Mataram memang bekerja. Mereka berupaya memutus mata rantai penularan virus Korona. Sayangnya, kerja para pemangku kebijakan di Pemkot Mataram itu tanpa inovasi.

Enam Bulan, 19 Kasus Kekerasan Terhadap Anak Terjadi di Mataram

Kasus kekerasan anak di Kota Mataram masih sering terjadi. Buktinya, hingga Juli  tercatat sudah terjadi 19 kasus. “Kebanyakan dari kasus ini perebutan hak asuh,” kata Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Mataram Hj Dewi Mardiana Ariany, Selasa (14/7).

Larangan Dicabut, PNS Sudah Boleh Lakukan Perjalanan Dinas

Kebijakan pembatasan perjalanan dinas aparatur sipil negara (ASN) resmi dicabut. Kini ASN dibolehkan ke luar kota. Namun, dengan syarat-syarat khusus.

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Di Mataram, Tanpa Masker Tak Boleh Masuk Pasar

Saat ini, sebagian besar masyarakat NTB memang sudah menggunakan masker. Tapi, banyak pula yang memakai masker hanya sampai dagu atau di leher. Sementara di Kota Mataram dan Lombok Barat yang merupakan dua daerah zona merah dengan kasus Covid-19 terparah, banyak pedagang dan pengunjung pasar yang masih bandel. Mereka ngelencer di pasar tanpa masker.

Sukseskan Kampung Sehat, Tiga Pilar di Loteng Kompak

Pemkab, Polres dan Kodim 1620/Lombok Tengah siap menyukseskan lomba kampung sehat. “Harapannya masyarakat mempunyai kemampuan dan kemandirian dalam penanganan covid-19,” papar Kapolres AKBP Esty Setyo Nugroho saat memimpin upacara tiga pilar di Bencingah Alun-Alun Tastura, Praya, Selasa (14/7/2020).

Paling Sering Dibaca

Usai Pemakaman, Kades Sigerongan Lobar dan Lima Warga Lainnya Reaktif

Aktivitas di Kantor Desa Sigerongan lumpuh. Menyusul hasil rapid test kepala desa dan sejumlah warganya reaktif. Selama 14 hari ke depan, pelayanan di kantor desa ditiadakan sementara.

Korona NTB Masih Parah, Sekolah Hanya Bisa Dibuka di Kota Bima

Ketentuannya, kegiatan di sekolah pada tahun ajaran baru hanya diperbolehkan untuk daerah zona hijau. Karena itu, manakala ada pemerintah daerah yang nekat membuka sekolah non zona hijau. pemerintah pusat memastikan akan memberi sanksi.

Beli Honda ADV150, Hemat Rp 5,7 Juta

Honda ADV150 merupakan skutik penjelajah jalanan canggih dengan desain bodi yang futuristik dan manly. Skutik ini dibekali mesin 150cc eSP yang menyuguhkan performa responsif.

Liburan di Sungai Dodokan Lobar, Bayar Rp 5 Ribu Wisata Sampai Puas

Orang kreatif bisa membuat peluangnya sendiri. Itulah yang dilakukan Siali, warga Desa Taman Ayu, Kecamatan Gerung. Ia membuat Sungai Dodokan jadi spot wisata baru di Lombok Barat (Lobar).

Ikuti Mataram, Lobar Berlakukan Jam Malam

erkembangan pandemi Covid-19 di Lombok Barat (Lobar) semakin mengkhawatirkan. Kasus positif yang mencapai 300 lebih, menjadi atensi penuh Polres Lobar dalam melakukan upaya pencegahan penularan.
Enable Notifications.    Ok No thanks