alexametrics
Kamis, 11 Agustus 2022
Kamis, 11 Agustus 2022

Gizi Buruk di KLU Tinggal 4 Persen

TANJUNG– Angka gizi buruk di Kabupaten Lombok Utara (KLU) dinilai menurun drastis. Berdasarkan hasil survei Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 lalu, gizi buruk di KLU hanya 4 persen dari seluruh anak usia di bawah dua tahun.

Kepala Dinas Kesehatan (Dikes) KLU H Khaerul Anwar menuturkan, hasil Riskesdas 2018 untuk status gizi di KLU secara umum cukup menggembirakan. Underweight (berat kurang) turun dari 25 persen di 2013 menjadi 23, 15 persen. Angka stunting juga turun dari 65 persen di 2013 menjadi 29,3 persen di 2018.

Hal ini tak lepas dari keberhasilan sejumlah program. Salah satunya Gerakan Saber Gebuk (sapu bersih gizi buruk dan gizi kurang). Program ini berhasil menurunkan kasus BGM (berat di bawah garis merah) dari 1.400 kasus menjadi 400 kasus pada Desember 2018.

“Hanya saja karena pengaruh gempa, penanganan terhadap balita ini belum maksimal. Tapi kita tetap berupaya maksimal,” ujarnya, kemarin (21/3).

Baca Juga :  Polres Lombok Utara Bekuk Dua Terduga Pelaku Curat

Khaerul menambahkan, penyebab tingginya angka gizi kurang salah satunya akibat pola asuh dan pemberian gizi yang tidak maksimal. Asupan gizi anak kerap kurang diperhatikan orang tuanya. Sebagian besar orang tua di KLU memberi makanan untuk anaknya dengan kadar gizi yang kurang.

“Bahkan pada beberapa kasus, Dikes mendapati anak diberikan nasi papah atau nasi yang dikunyah oleh ibu atau orang tua. Padahal nasi tersebut tidak baik untuk kesehatan anak,” jelasnya.

Dikes dan RSUD berupaya mengefektifkan gerakan Saber Gebuk. Saber Gebuk dioptimalkan dengan melacak, menemukan dan mengobati anak yang kekurangan gizi secara langsung.

Saber Gebuk tidak hanya dilakukan di posyandu, tapi juga dengan menyasar rumah warga. Setiap informasi adanya anak sakit dan terindikasi mengalami gizi buruk dan gizi kurang, akan langsung ditangani.

“Anggaran untuk gizi cukup banyak. Sarana prasarana posyandu juga akan dibantu pusat. Artinya sumber daya untuk menangani kasus gizi buruk ini cukup banyak,” tandasnya.

Baca Juga :  3.400 UMKM Lombok Utara Terima Rekening Bantuan Presiden

Terpisah, Bupati KLU H Najmul Akhyar mengatakan, penurunan kasus gizi buruk ini menunjukkan membaiknya kinerja di bidang kesehatan. Ia berharap, ke depan penanganan gizi buruk dapat lebih dimaksimalkan.

“Gizi buruk bukan semata akibat kemiskinan, namun juga faktor perilaku. Ini harus jadi fokus penanganan,” tegasnya.

Bupati menambahkan, pencegahan gizi buruk dan stunting perlu terus disosialisasikan.  Kemudian mengubah pola pikir dan kebiasaan masyarakat yang berpotensi menimbulkan gizi buruk. Seperti anggapan bahwa orang yang baru melahirkan itu tidak boleh makan ayam, telur, hingga ikan.

Di samping itu, posyandu dan pemberian makanan tambahan kepada anak juga harus dimaksimalkan. Ada juga kegiatan bersama Dinas Perikanan melalui gerakan forum gemar makan ikan memberi makanan berbasis ikan. (fer/r3)

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications    OK No thanks
/