alexametrics
Kamis, 13 Mei 2021
Kamis, 13 Mei 2021

Rendah, Realisasi PAD KLU Triwulan I

TANJUNG-Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) mencatat realisasi keseluruhan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Lombok Utara triwulan I 8,88 persen. Khusus untuk Bapenda sendiri, realisasinya baru mencapai 10,20 persen dari target 15 persen.

”Jadi masih kurang 4 sekian persen,” ujar Kepala Bapenda Lombok Utara H Hermanto,  (22/4).

Beberapa potensi yang intens dilakukan pungutan yakni Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB), Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), Pajak Penerangan Jalan (PPJ), dan retribusi air bawah tanah. Sedangkan pungutan dari pariwisata berupa pajak hotel, restoran, dan tempat hiburan masih belum normal saat ini.

”Kontribusi PAD yang besar itu sebenarnya dari pariwisata,” sambung dia.

Target PAD Lombok Utara saat ini Rp 117 miliar. Jika di triwulan satu hanya 8,88 persen, maka baru Rp 10,385 miliar yang terkumpul. Pemasukan dari pajak tetap ada, hanya saja tidak seperti saat sebelum pandemi.

Mantan asisten II Setda Lombok Utara ini mengaku sulit memprediksi capaian akhir PAD sesuai target Rp 117 miliar tersebut.

”Kalau kondisinya normal bisa kita prediksi,” aku dia.

Kondisi pariwisata Lombok Utara yang terpuruk, membuat pihaknya tidak bisa bergantung lagi pada sektor tersebut.

”Tugas kita adalah memaksimalkan yang ada saja,” jelas dia.

Hermanto membeberkan, pada awalnya mereka berasumsi tahun ini akan normal kembali. Namun kenyataanya justru semakin bertambah parah. Terlebih saat ini ada kebijakan pelarangan mudik. Hal ini menjadi masalah yang juga pasti akan berdampak terhadap pariwisata daerah.

”Kalau memang nanti ada balap di sirkuit Mandalika, itu pun hanya beberapa hari. Berbicara imbas pasti ada,” tandas dia.

Kepala Bidang Pendapatan Bapenda Lombok Utara Arifin mengatakan, wisata di tiga gili tetap buka dengan mengincar pasar lokal. Namun sejauh ini kunjungannya belum banyak.

”Bali juga sangat terdampak,” ujar dia menegaskan kondisi serupa dialami berbagai daerah.

Sektor pariwisata saat ini menghadapi tantangan paling berat. Promosi sudah dilakukan, namun sejumlah negara masih menutup diri. Saat ini, sektor penghasil PAD unggulan Lombok Utara itu hanya mampu menyumbang 5 persen saja. Padahal sebelumnya bisa menyumbangkan hingga 65 persen PAD.

Arifin mengatakan, pihaknya tidak bisa memaksakan pengusaha pariwisata menyumbang banyak PAD. Sebab untuk membayar pajak saja mereka cukup kesulitan. Sebab itu Pemda berharap adanya hibah untuk membantu mereka seperti tahun lalu.

Melalui hibah tersebut, mereka bisa membantu karyawannya. Selain itu, banyak perusahaan yang mau tutup, menjadi urung berkat adanya hibah tersebut. Pengangguran pun tidak bertambah, dan gaji hingga THR pun tetap terbayarkan.

”Kita tetap optimistis target PAD nantinya pasti bisa tercapai,” pungkas dia. (fer/r9)

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications    OK No thanks