alexametrics
Rabu, 15 Juli 2020
Rabu, 15 Juli 2020

Usut Korupsi, Kades Sesait Nonaktif Serahkan Dokumen ke Kejaksaan

MATARAM-Jaksa terus menelusuri dugaan penyelewengan anggaran desa Sesait Lombok Utara tahun 2019. Kades nonaktif, Susianto datang memberikan dokumen yang diminta penyelidik Kejari Mataram, kemarin (24/6). ”Kalau diperiksa sudah. Saya hanya menyerahkan dokumen yang diminta jaksa saja,” kata Susianto usai menyerahkan dokumen, Rabu (24/6).

Dokumen itu mengenai kesepakatan musyawarah Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Sesait yang mengoreksi Perdes dan APB Des Perubahan tahun 2019. Pada dokumen itu, tertera penggunaan anggaran bidang kebudayaan dan keagamaan yang semula dianggarkan Rp 381,3 juta diubah menjadi Rp 1,018 miliar. ”Jadi ada selisihnya Rp 637,13 juta,” terangnya.

Selain itu, ada juga program pembangunan dan rehabilitasi prasarana kebudayaan. Anggarannya mencapai Rp 642,9 juta. Di APB Des murni, program tersebut tidak dianggarkan tetapi muncul laporan pertanggungjawaban.

Ditambah lagi penggunaan anggaran tata praja pemerintahan. Awalnya  dianggarkan Rp 72,42 juta berubah menjadi Rp 268,53 juta.

Terakhir, penggunaan anggaran rehabilitasi kantor desa. Dianggarkan Rp 185,08 juta.

Pada rapat evaluasi BPD, rehabilitasi kantor desa tidak selesai. ”Yang terealisasi hanya pilarnya saja,” bebernya.

”Hasil musyawarah BPD, pelaksanaan kegiatan atau program itu tidak mencapai target. Bahkan, sampai sekarang LKPJ Dana Desa/Anggaran Dana Desa tahun 2019 tidak ada,” jelasnya.

Tak hanya itu, program lain yang belum jelas pertanggungjawabannya adalah festival HUT desa. Anggarannya Rp 103,73 juta. Rehabilitasi rumah adat Rp 642,9 juta, peningkatan produksi peternakan Rp 37,96 juta,  pembinan lembaga adat Rp 17,34 juta,  dan peningkatan produksi tanaman pangan Rp 339,3 juta. ”Semua tidak jelas penggunaannya,” ungkapnya.

Selain dokumen, Susianto juga menyerahkan laptop inventaris desa ke Jaksa bidang pidsus. ”Laptop ini saya terima setelah sertijab (serah terima jabatan). Isinya sudah dikosongkan. Semua yang berkaitan dengan Siskeudes sudah dihapus. Mungkin jaksa bisa mengangkat data itu kembali,” harapnya.

Kajari Mataram Yusuf mengatakan, permintaan dokumen itu hanya sebagai klarifikasi. Apakah dokumen itu benar atau tidak. “Masih dipelajari penyelidik,” kata Yusuf.

Dia belum bisa menyimpulkan adanya dugaan kerugian negara. Sebelum perhitungan secara riil dilakukan. ”Tunggu saja. Ini masih penyelidikan,” ujarnya singkat.

Diketahui, pada 2019, Desa Sesait mengelola dana desa sebesar Rp 2,45 miliar dan ADD sebesar Rp 1,433 miliar. Ditambah Juga suntikan dana dari bagi hasil pajak dan retribusi daerah (BHPRD) sejumlah Rp 235,15 juta.  (arl/r2)

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Korona Tinggi, Pola Pencegahan Covid 19 di Mataram Perlu Dievaluasi

emkot Mataram memang bekerja. Mereka berupaya memutus mata rantai penularan virus Korona. Sayangnya, kerja para pemangku kebijakan di Pemkot Mataram itu tanpa inovasi.

Enam Bulan, 19 Kasus Kekerasan Terhadap Anak Terjadi di Mataram

Kasus kekerasan anak di Kota Mataram masih sering terjadi. Buktinya, hingga Juli  tercatat sudah terjadi 19 kasus. “Kebanyakan dari kasus ini perebutan hak asuh,” kata Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Mataram Hj Dewi Mardiana Ariany, Selasa (14/7).

Larangan Dicabut, PNS Sudah Boleh Lakukan Perjalanan Dinas

Kebijakan pembatasan perjalanan dinas aparatur sipil negara (ASN) resmi dicabut. Kini ASN dibolehkan ke luar kota. Namun, dengan syarat-syarat khusus.

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Di Mataram, Tanpa Masker Tak Boleh Masuk Pasar

Saat ini, sebagian besar masyarakat NTB memang sudah menggunakan masker. Tapi, banyak pula yang memakai masker hanya sampai dagu atau di leher. Sementara di Kota Mataram dan Lombok Barat yang merupakan dua daerah zona merah dengan kasus Covid-19 terparah, banyak pedagang dan pengunjung pasar yang masih bandel. Mereka ngelencer di pasar tanpa masker.

Sukseskan Kampung Sehat, Tiga Pilar di Loteng Kompak

Pemkab, Polres dan Kodim 1620/Lombok Tengah siap menyukseskan lomba kampung sehat. “Harapannya masyarakat mempunyai kemampuan dan kemandirian dalam penanganan covid-19,” papar Kapolres AKBP Esty Setyo Nugroho saat memimpin upacara tiga pilar di Bencingah Alun-Alun Tastura, Praya, Selasa (14/7/2020).

Paling Sering Dibaca

Usai Pemakaman, Kades Sigerongan Lobar dan Lima Warga Lainnya Reaktif

Aktivitas di Kantor Desa Sigerongan lumpuh. Menyusul hasil rapid test kepala desa dan sejumlah warganya reaktif. Selama 14 hari ke depan, pelayanan di kantor desa ditiadakan sementara.

Korona NTB Masih Parah, Sekolah Hanya Bisa Dibuka di Kota Bima

Ketentuannya, kegiatan di sekolah pada tahun ajaran baru hanya diperbolehkan untuk daerah zona hijau. Karena itu, manakala ada pemerintah daerah yang nekat membuka sekolah non zona hijau. pemerintah pusat memastikan akan memberi sanksi.

Beli Honda ADV150, Hemat Rp 5,7 Juta

Honda ADV150 merupakan skutik penjelajah jalanan canggih dengan desain bodi yang futuristik dan manly. Skutik ini dibekali mesin 150cc eSP yang menyuguhkan performa responsif.

Liburan di Sungai Dodokan Lobar, Bayar Rp 5 Ribu Wisata Sampai Puas

Orang kreatif bisa membuat peluangnya sendiri. Itulah yang dilakukan Siali, warga Desa Taman Ayu, Kecamatan Gerung. Ia membuat Sungai Dodokan jadi spot wisata baru di Lombok Barat (Lobar).

Ikuti Mataram, Lobar Berlakukan Jam Malam

erkembangan pandemi Covid-19 di Lombok Barat (Lobar) semakin mengkhawatirkan. Kasus positif yang mencapai 300 lebih, menjadi atensi penuh Polres Lobar dalam melakukan upaya pencegahan penularan.
Enable Notifications.    Ok No thanks