alexametrics
Sabtu, 19 September 2020
Sabtu, 19 September 2020

Dewan KLU Minta Program Dokter Desa Dievaluasi

TANJUNG-Polemik program satu desa satu dokter ditanggapi DPRD Lombok Utara. Ketua II DPRD Lombok Utara Mariadi meminta Pemkab Lombok Utara melakukan evaluasi program tersebut.

“Programnya bagus, tapi di lapangan katanya tidak efektif. Ini yang harus dievaluasi kembali,” ujar dia, Selasa (25/2).

Kata dia, program satu desa satu dokter merupakan bentuk perhatian pemkab di bidang kesehatan. Namun sejauh ini jumlah dokter dengan desa yang ada tidak seimbang. Pada akhirnya, hanya sebagian desa yang mendapatkan dokter desa.

“Itupun keberadaannya dinilai sebagian warga tidak optimal,” tandas Mariadi.

Ia mengaku sangat mendukung program tersebut. Hanya saja, sejauh ini tidak semua warga merasakan secara maksimal program tersebut. Sebab hampir semua dokter desa, hanya bertugas di puskesmas. Pdahal warga ingin, para dokter desa ini berada di tengah masyarakat. Khususnya yang tinggal di daerah pelosok yang jauh dari jangkauan pelayanan kesehatan.

“Saya kira memang (program) itu tidak efektif, jadi harus dievaluasi,” tegas dia.

Kata politisi Golkar ini, program yang dihajatkan untuk desa, seharusnya ada di desa. Sehingga manfaatnya bisa dirasakan semua masyarakat.

“Termasuk program dokter desa ini. Dokternya harus ada di desa,” tekan dia.

Jika program ini dipertahankan, pemkab harus mampu menjamin, keberadaan dokter tersebut dirasakan manfaatnya secara optimal oleh masyarakat. Artinya, pemkab harus menyediakan biaya mobilitas dokter, operasional hingga tempat tinggalnya.

Ia menambahkan, program tersebut jangan hanya menjadi sebuah slogan saja. Program apapun dinilai percuma, jika tidak dirasakan manfaatnya di lapangan.

Mariadi juga menyoroti klaim pemkab yang menyatakan program tersebut berhasil. Kata dia, mengukur keberhasilan program harus ada barometernya.

“Barometer dari program ini adalah manfaatnya dirasakan masyarakat,” tandas dia. (fer/r4)

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Siswa SMP di Loteng Menikah, Kenal Lewat HP, Pacaran Cuma Empat Hari

Meski belum cukup umur, Suhaimi dan Nur Herawati telah resmi menjadi pasangan suami istri. Bagaimana kisahnya sampai mereka memutuskan menikah? Berikut ulasannya.

Proyek Pasar ACC Ampenan Terancam Molor

Pengerjaan konstruksi fisik Pasar ACC Ampenan masih dalam proses sanggah. Belajar dari pengalaman tahun lalu, Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Mataram tidak ingin gegabah mengerjakan proyek yang anggarannya dari Kementerian Perdagangan itu. “Kita tidak ingin kejadian seperti  tahun lalu di Pasar Cakarenagara. Molor,” kata Kepala Disdag Kota Mataram H Amran M Amin, kemarin (18/9).

Saat Pandemi, Anak 14 Tahun di Mataram Nikah Dini

Fenomena pernikahan usia anak masih terjadi di Kota Mataram. Seperti yang terjadi di Kelurahan Karang Baru pekan lalu. AA, perempuan usia 14 tahun juga memilih menikah dengan IW, 20 tahun warga kelurahan Selagalas. Keduanya enggan dipisahkan dengan alasan cinta.

Kasus Korona di Mataram Kembali Meningkat

Tren kasus Covid-19 dalam sepekan terakhir mengalami peningkatan. Terjadi penambahan kasus tiap hari. “Biasanya kasus baru positif satu, dua. Tapi tadi malam sepuluh orang yang positif,” kata Juru Bicara Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kota Mataram I Nyoman Suwandiasa, kemarin (17/9).

TGB Minta Kasus Penusukan Syaikh Ali Jaber Diusut Tuntas

Mantan Gubernur NTB yang juga ulama TGB M Zainul Majdi menyinggung kasus penusukan terhadap salah satu ulama nasional Syaikh Ali Jaber. Menurutnya, di balik kasus penusukan ini, ada upaya untuk memecah belah umat dan bangsa Indonesia.

Kampung Sehat NTB Jadi Energi Baru Penanganan Covid-19

Program Kampung Sehat yang diinisiasi Polda NTB mendapat sambutan hangat dari masyarakat dan telah memberi dampak nyata pada upaya memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Wakil Gubernur NTB Hj Sitti Rohmi Djalilah pun tak sungkan memberikan apresiasi yang tinggi pada Polda NTB atas program inovatif ini.

Paling Sering Dibaca

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Di Tengah Pandemi Korona, Dua Murid SMP di Lombok Tengah Menikah

Saat sekolah tak kunjung dibuka karena Pandemi Korona dua pelajar SMP di Lombok Tengah memilih untuk melangsungkan pernikahan Sabtu (12/9) lalu. Mereka adalah Suhaimi, kelas 2 SMP asal  Desa Pengenjek, Kecamatan Pringgarata menikahi Nur Herawati, kelas 1 SMP.

Siswa SMP di Loteng Menikah, Kenal Lewat HP, Pacaran Cuma Empat Hari

Meski belum cukup umur, Suhaimi dan Nur Herawati telah resmi menjadi pasangan suami istri. Bagaimana kisahnya sampai mereka memutuskan menikah? Berikut ulasannya.

Bantuan Uang Tunai untuk Warga Terdampak Korona Diperpanjang Sampai Desember

JAKARTA–Pemerintah memutuskan untuk memperpanjang pemberian bansos. Awalnya, bansos hanya diberikan tiga bulan dari April sampai Juni, namun akhirnya diperpanjang hingga Desember 2020. Sehingga, total...

Pemda di NTB Wajib Daftarkan Honorer Ikut BPJS Ketenagakerjaan

"Seluruh tenaga kerja di NTB, baik yang ada di lingkungan pemerintah atau pun swasta, baik sektor formal maupun informal wajib mendapatkan jaminan sosial ketenagakerjaan," tegas Wisma.
Enable Notifications    Ok No thanks