alexametrics
Kamis, 11 Agustus 2022
Kamis, 11 Agustus 2022

DKP3 Bantu Petani Porang

TANJUNG-Budi daya tanaman porang di Kabupaten Lombok Utara (KLU) berkembang dengan baik. Terbaru, Dinas Ketahanan Pangan Pertanian dan Perikanan (DKP3) KLU memfasilitasi para petani menjalin kemitraan dengan perusahaan.

“Saya harapkan mudahan bisa terealisasi,” ujar Kepala DKP3 KLU Tresnahadi, Senin (28/12).

Ia menuturkan, PT Bumi Pangan Sukses Indonesia (BPSI) tertarik menjalin kemitraan dengan petani porang. Polanya, perusahaan menyediakan kebutuhan budi daya. Mulai dari bibit, pupuk, obat-obatan, dan lain sebagainya.

“Petani hanya menyiapkan lahan saja,” sambungnya.

Ia melanjutkan, pemilik lahan akan dikontrak selama lima tahun dengan masa tiga kali panen. Panen pertama pada saat tanaman Porang berusi 1,5 tahun. Panen kedua di usia 3 tahun dan ketiga di usia 5 tahun.

“Setelah itu pemilik lahan ini bebas mengelola sendiri lahan yang dikerjasamakan itu,” katanya.

Baca Juga :  Kejar Juara Kampung Sehat NTB, Desa Bentek Benahi Produk Unggulan

Mantan sekretaris Dukcapil KLU ini mengatakan, selama kemitraan pemilik lahan juga akan diberikan pelatihan oleh perusahaan. Mulai dari cara membu didaya, hingga pengolahan hasil porang.

“Akan dilatih juga UMKM yang mengolah porang nanti,” bebernya.

Tresnahadi mengatakan, pihak perusahaan membutuhkan lahan 3.000 hektare. Namun jika di KLU hanya ada 1.000 hektare, juga tidak menjadi persoalan.
Dalam kerja samanya nanti, usai panen pertama akan dihitung berapa biaya yang dikeluarkan dengan hasil penjualan. Setelah itu akan dipotong dengan biaya modal dari perusahaan. Hasil bersihnya nanti akan dibagi sebesar 80 persen untuk perusahaan dan 20 persen untuk pemilik lahan.

“Pemilik lahan juga bisa jadi pekerja langsung di sana yang akan digaji langsung perusahaan sebesar Rp 100 ribu per orang per hari,” jelasnya.

Baca Juga :  Gara-gara PMK, Peternak KLU Terpaksa Lelang Ternak

Menurutnya, kemitraan ini memberikan keuntungan yang banyak. Mulai dari keuntungan bersih, mendapat pelatihan, hingga direkrut menjadi pekerja dan digaji perusahaan. Bahkan pemasarannya pun dilakukan secara transparan.

“Terima beres mereka, dan berapa biayanya itu akan disetujui bersama,” kata mantan camat Kayangan itu.

“Kalau petani budi daya sendiri agak berat, karena harga bibit saja itu Rp 100-150 ribu per kilogram,” imbuhnya.

Ia menambahkan, pihaknya akan memfasilitasi kemitraan tersebut sekaligus melihat seperti apa kontrak kerja samanya. Kemitraan ini, akan dimulai tahun depan di tiga kecamatan. Yakni Kecamatan Gangga, Kayangan, dan Bayan.

“Kalau pun ada perusahaan lain yang mau bermitra juga tidak masalah, yang penting bisa saling menguntungkan,” tandasnya. (fer/r9)

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications    OK No thanks
/