alexametrics
Sabtu, 25 Juni 2022
Sabtu, 25 Juni 2022

Pakar: Peretas Keamanan Siber BI Salah Satu Paling Berbahaya di Dunia

Kembali terulang, dugaan kasus kebocoran data menimpa salah satu lembaga penting di Republik ini. Setelah sebelumnya menyeruak kasus data ratusan ribu pasien yang diduga milik Kementerian Kesehatan (Kemenkes), kali ini giliran Bank Indonesia atau BI yang kena sasaran.

Data Bank Indonesia dibobol sebuah grup bernama Conti Ransomware. Lalu siapakah mereka?

Nama Conti Ransomware sendiri diungkap oleh akun Twitter DarkTracker: DarkWeb Criminal Intelligence. Bank Indonesia disebut menjadi salah satu korban grup tersebut.

Menjelaskan hal tersebut, pakar keamanan siber Pratama Persadha membeberkan bahwa informasi Bank Indonesia diserang Ransomware dari salah satu akun Twitter “DarkTracer” adalah valid.

Pria yang sudah bergelut di bidang cyber security selama puluhan tahun itu mengungkapkan bahwa grup peretas Ransomware Conti merupakan salah satu grup peretas ransomware yang paling berbahaya di dunia, dan mempunyai reputasi yang bagus.

“Sehingga jika mempublish sesuatu, sudah pasti valid karena reputasinya dipertaruhkan,” terang Pratama melalui pesan singkatnya kepada JawaPos.com.

Pada kasus BI ini, Chairman CISSReC (Communication & Information System Security Research Center) ini menyebut,
serangan sudah dipastikan berasal dari ransomware. Pada kasus BI, ransomware sendiri bisa masuk dari mana saja dan dikatakan memang salah satu risiko dari kegiatan bekerja dari rumah atau Work From Home (WFH).

Baca Juga :  Kenalin Nih, Medsos Bikinan Donald Trump, Namanya Truth Social

“Bisa saja dengan praktik phising, credential login yang lemah atau dikarenakan pegawai mengakses sistem kantor dengan jaringan dan peralatan yang tidak aman. Namun perlu dilakukan digital forensik lebih lanjut untuk mengetahui mereka menyerang dari mana,” lanjut Pratama.

Lebih lanjut, ransomware ini berbahaya karena menginfeksi file dan bisa menyebar ke semua server yang terhubung. Jadi, data lainnya bisa kena juga.

Lembaga keuangan memang banyak menjadi target yang disasar saat ini. Tren serangan ransomware, dikatakan Pratama, terus meningkat setiap tahunnya mengingat semua sektor keuangan terpaksa melakukan digitalisasi lebih cepat, terutama perbankan.

Sehingga perbankan dan lembaga keuangan termasuk BI akan menjadi sasaran serangan siber yang cukup terbuka di tahun-tahun mendatang. Karena itu peningkatan keamanan siber harus dilakukan oleh negara maupun swasta.

Baca Juga :  Libur Panjang Natal dan Tahun Baru, Trafik Data Diprediksi Naik 10 Persen

Adapun modus dari serangan tersebut ialah bermacam-macam. Kemungkinan karena uang tebusan, maupun reputasi kelompok peretas atau bahkan bisa juga memang dari spionase asing.

Karena serangan-serangan ransomware yang terjadi saat ini banyak diindikasikan dilakukan oleh grup hacker asal Rusia. Risiko yang diakibatkan oleh serangan ransomware ini salah satunya adalah akan banyak file yang disandera dan di-encrypt atau dienkripsi.

Sehingga korban mau tidak mau harus membayarnya untuk mendapatkan kunci pembuka. Kalau korban tidak membayar uang tebusan yang diminta, maka data dan sistemnya akan dirusak dan sistem tidak bisa berjalan, sehingga layanan organisasi tersebut akan berhenti.

“Karena data file mahal dan penting, jadi pasti pihak lembaga mau tidak mau membayar tebusan jika terkena serangan ransomware. Sama halnya seperti serangan ransomware ke perusahaan pipa minyak Amerika pada awal Mei 2021 yang merupakan salah satu serangan siber paling masif tahun ini,” tandas Pratama.(jpg)

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications    OK No thanks
/