VIDEO : Lelah Disakiti Anak Kandung, Inaq Kalsum Lapor Balik ke Polda NTB

MATARAM-Inaq Kalsum, 60 tahun menjadi sorotan publik. Itu setelah dirinya dipolisikan anak kandungnya, Mahsun, 40 tahun hanya gara-gara sepeda motor.

Kesabaran perempuan paro baya  asal Ranggagata, Lombok Tengah (Loteng) itu habis. Dia melaporkan balik anaknya ke Polda NTB, Rabu (1/7). ”Kita laporkan Mahsun atas penggelapan harta warisan,” kata L Anton Hariawan selaku penasihat hukum Ibu Kalsum, usai melapor ke Polda NTB.

Tak hanya itu, Mahsun juga dilaporkan terkait dugaan tindak pidana penyebar berita bohong. Mahsun melaporkan ibunya telah melakukan penggelapan dan pencurian sepeda motor. ”Padahal klien saya ini tidak bisa mengendarai sepeda motor. Unsur menggelapkan itu ketika sepeda motor itu sudah berpindah tangan. Ini sepeda motor hanya dipinjam,” jelasnya.

”Jadi ada dua laporan yang kita masukkan ke Polda NTB. Kasus penggelapan ke Ditreskrimum dan kasus penyebar berita bohong ke Ditreskrimsus Polda NTB,” kata Anton.

BACA JUGA : Sebelum Dilaporkan ke Polisi, Inaq Kalsum Mengaku Kerap Disakiti Anak dan Menantu

Ditolak Polres Loteng, Mahsun Ingin Laporkan Ibu Kandung ke Polda NTB

Anak Pidanakan Ibu Kandung, Polres Loteng : Laporan Kami Tolak!

Anton menjelaskan, terkait dengan dugaan penggelapan harta warisan tanah berawal dari meninggalnya pewaris bernama Mudahan, tahun 2017. Selanjutnya, Mahsun yang menjadi anak semata wayang menjual harta warisan berupa lahan seluas 40 are. ”Lahan itu dijual dengan harga Rp 240 juta,” bebernya.

Tetapi, Ibu Kalsum hanya mendapatkan uang Rp 15 juta. Seharusnya, berdasarkan pembagian harta warisan Kalsum harus menerima setengah dari harga penjualan harta warisan tersebut. ”Tidak sebandinglah kalau hanya memberikan Rp 15 juta,” keluhnya.

Uang hasil pembagian harta warisan tersebut tidak sepenuhnya dihabiskan Kalsum. Melainkan, dia membeli sepeda motor bekas seharga Rp 11 juta. ”Motor itu bukan dipakai untuk dirinya sendiri.  Karena, Ibu Kalsum tidak bisa mengendarai sepeda motor,” ujarnya.

Tujuannya membeli sepeda motor itu untuk diberikan kepada cucunya, atau anak dari Mahsun. Motor itu pun sering digunakan oleh cucunya. ”Yang menggunakannya pun adalah anaknya,” jelasnya.

Hanya karena sepeda motor tersebut dipinjamkan ke orang lain, sehingga Mahsun melaporkan ibunya ke polisi. ”Pelaporannya atas dugaan penggelapan,” bebernya.

Saat ini, pihaknya masih menunggu pihak kepolisian untuk menyelidiki berkas pelaporannya. ”Kita masih menunggu panggilan untuk pemeriksaan selanjutnya,” ungkapnya.

Sementara itu, Ibu Kalsum mengaku sering mendapatkan tindakan kekerasan dari anak dan menantunya.  Sehingga sempat aksi kekerasan yang pernah dilakukan Mahsun didamaikan oleh kepala dusun (Kadus). Mahsun pun sudah menandatangani surat pernyataan agar tidak mengulangi perbuatannya lagi. ”Nane jak wah lelah (Sekarang saya sudah lelah mendapatkan perlakuan tersebut),” ujarnya.

Mahsun sudah tiga kali menikah. Di istri pertama dan kedua masing-masing mendapatkan satu anak. ”Lek seninen ketelu ni taok ne sak noak lalok (Semenjak bersama istri ketiga ini dia kurang ajar),” keluhnya.

Kalsum berharap jika proses hokum yang bakal dijalani anaknya bias membuat Mahsun sadar.

Terpisah, Dirreskrimum Polda NTB Hari Brata mengatakan, laporan tersebut harus dipelajari terlebih dahulu. Melihat asal-usul permasalahannya. ”Hukum itu tidak selalu dipandang kaku. Kita harus dudukkan bersama. Tidak bisa kita langsung menggunakan delik untuk menangani kasus seperti ini,” kata Hari.

Pihak kepolsian nantinya akan mengedepankan mediasi untuk menyelesaikan persoalan itu. “Kita lebih utamakan restoratif  justice,” pungkasnya. (arl/r2)