VIDEO : Pelajar di Lobar Diduga Sebar Foto Bugil Mantan Pacar

Kasus yang menimpa  pelajar SMP berinisial LD, perempuan 16 tahun asal Narmada Lobar boleh jadi cerminan lemahnya pengawasan orang tua terhadap penggunaan ponsel pintar. Dia mengirimkan fotonya tanpa busana ke mantan pacarnya, berinisial RA, 17 tahun. ”Kasus ini terjadi karena lemahnya pengawasan orang tua,” kata Kasatreskrim Polresta Mataram AKP Kadek Adi Budi Astawa, Selasa (30/6).

Kasus itu bermula RA dan LD menjalin hubungan asmara. Mereka sudah berpacaran sejak tiga bulan lalu. ”Mereka berkomunikasi melalui handphone secara intens selama berpacaran,” jelasnya.

RA merasa sakit hati, karena merasa diselingkuhi LD. Sejak itu, hubungan mereka renggang. “Hubungan mereka pun berakhir,” bebernya.

RA kerap menghubungi LD. Namun, LD tetap merespons. ”Hingga RA pun meminta bukti cinta LD,” jelasnya.

RA memberikan syarat jika LD masih memiliki cinta, harus mengirimkan fotonya. Dengan syarat tanpa busana. ”LD pun mengiyakan. Dia mengirimkan foto seperti itu,” kata Kadek Adi.

Ada sebanyak tujuh foto bugil yang dikirim LD ke RA. Seiring berjalannya waktu, kisah cinta monyet mereka pun berakhir. ”Karena sakit hati, RA pun menyebarluaskan foto LD ke temannya,” ungkapnya.

Sejak saat itu, RA harus berurusan dengan hukum. Pihak keluarga LD tak menerima tindakan RA. ”Kita menerima laporan dari pihak keluarga korban,” bebernya.

Akibat mentransmisi foto bugil mantan pacarnya, RA dijerat pasal 27 ayat (1) Undang-undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang perubahan atas Undang-undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

”Untuk deliknya kita pakai UU ITE. Penangannya kita berpedoman pada UU Perlindungan Anak. Dia akan didiversi,” bebernya.

Penydik unit PPA Polresta Mataram tidak menahan RA.”Hanya diwajibkan untuk melapor,” terangnya.

Kadek Adi menekankan, kasus tersebut harus menjadi edukasi bagi masyarakat. Agar para orang tua juga tetap mengawasi anak remaja memegang ponsel pintar. “Jangan sampai ada kasus serupa terjadi,” tandasnya.

Terpisah Dani Hamdani selaku  penasihat hukum di Lembaga Perlindungan Anak  (LPA) NTB mengatakan, dirinya tetap akan mendampingi RA menjalani proses hukumnya. “Saya hanya memberikan pendampingan hukum ke tersangka,” kata Dani.

Bukan hanya saat proses hukumnya, melainkan juga hingga dia selesai menjalani proses hukum. ”Kita berikan pendampingan kepada RA agar dititip di lembaga perlindungan anak, supaya mereka mendapatkan pelatihan dan pembelajaran,” ungkapnya.

Dia sangat menyayangkan kasus seperti ini terjadi. Menurutnya, munculnya kasus tersebut karena lemahnya pengawasan dari orang tua. ”Apalagi, RA sudah putus sekolah, dan tidak tinggal dengan orang tuanya,” ujarnya.

Sudah saatnya, para orang tua mengawasi anak-anaknya bermain handphone. Jangan sampai mengirim foto yang tidak senonoh ke orang lain.  ”Mari kita jaga anak-anak remaja kita agar terhindar dari persoalan seperti ini,” imbaunya. (arl/r2)