VIDEO : Yakin Bukan Korona, Warga Berupaya Ambil Jenazah Pasien Covid 19 dari RSUD Mataram

MATARAM-Pasien perempuan berinisial BA dinyatakan positif Covid-19. Warga Lombok Tengah (Loteng) itu dinyatakan positif setelah meninggal dunia di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) H Moh Ruslan Kota Mataram Minggu (5/7) dini hari kemarin.

Kondisi itu membuat pihak keluarga keberatan dan menolak untuk dimakamkan dengan cara protokol Covid-19. Mereka berupaya mengambil paksa jenazah BA.

Namun, upayanya dihalangi pihak rumah sakit. Sehingga terjadi perdebatan alot antara pihak keluarga dengan pihak rumah sakit.

Sekitar pukul 00.10 Wita anggota TNI-Polri dan pihak rumah sakit melakukan dialog dengan pihak keluarga. ”Jangan pandang saya bodoh. Saudara kandung saya ini memiliki gejala penyakit. TBC, ginjal, dan sesak nafas,” protes pria yang mengaku menjadi saudara kandung almarhum BA.

”Bukan Covid-19. Sensasi apa ini,” tanya dia.

Saat almarhumah BA masuk ke rumah sakit tiga hari lalu, tidak dilakukan rapid test. Namun, setelah meninggal tiba-tiba muncul hasil Swab dan dinyatakan positif Covid-19. ”Tidak korona itu yang spontanitas membuat orang langsung meninggal,” protesnya.

Saat menjalani perawatan di rumah sakit, pihak keluarga juga diberikan masuk dengan leluasa. Bahkan, bersentuhan langsung dengan almarhumah. ”Seharusnya, penanganannya harus lebih cepat. Kalau memang saudara saya ini meninggal dunia karena Covid-19, mengapa tidak ditempatkan di ruang khusus. Ini kan aneh,” keluhnya.

Pihak dari TNI Dandim 1606/Lombok Barat (Lobar) Kolonel Arm Gunawan dan Polresta Mataram yang diwakili Kasatreskrim Polresta Mataram AKP Kadek Adi Budi Astawa memberikan pemahaman kepada pihak keluarga. Setelah diberikan pandangan, akhirnya pihak keluarga mengerti dan menerima jenazah almarhumah dimakamkan dengan standar protokol Covid-19.

Sekitar pukul 02.30 Wita, jenazah almarhumah BA diantar menuju pemakaman di wilayah Loteng. Dengan pengawalan ketat dari anggota TNI-Polri.

Staf RSUD H Moh Ruslan Kota Mataram Marif mengatakan, pihak rumah sakit telah berusaha memberikan pelayanan terbaik untuk masyarakat. Almarhumah sudah menjalani perawatan medis selama tiga hari. ”Kami melakukan Swab sebelum almarhumah meninggal. Tetapi, hasil Swab-nya keluar setelah dinyatakan meninggal. Hasil swab-nya sudah dinyatakan positif,” kata Marif usai dialog dengan pihak keluarga,” ungkapnya.

Pihaknya sudah memberikan hasil Swab kepada pihak keluarga. Namun, ditolak. ”Sehingga, hasilnya saya berikan ke Pak Danramil,” ujarnya.

Saat memberitahukan hasil Swab-nya, pihak keluarga enggan menerima hasil Swab-nya. Sehingga terjadi perdebatan alot. ”Pihak keluarga tetap ngotot tidak ingin jenazah almarhumah BA dimakamkan secara protokol Covid-19. Tetapi, kami tidak menerima. Karena hasil Swab almarhumah dinyatakan positif,”  kata Marif.

Syukur, dengan koordinasi dengan TNI-Polri semua bisa diselesaikan. Sehingga, pihak keluarga menerima pemakaman dilakukan dengan standar Covid-19. ”Kami dari pihak rumah sakit hanya mejalankan tugas sesuai SOP yang sudah ditentukan. Ya, meskipun ada protes dari pihak keluarga. Ini demi kebaikan bersama,” ujarnya.

Kasatreskrim Polresta Mataram AKP Kadek Adi Budi Astawa mengatakan, pihak TNI dan Polri hanya bisa mengamankan. Dengan pendekatan persuasif yang dilakukan ke pihak keluarga, akhirnya mereka menerima jenazah dimakamkan dengan standar protokol Covid-19. ”Untuk memastikan proses pemakaman berlangsung aman, TNI-Polri telah mengawal proses pemakaman dari pengantaran jenazah, hingga pemakamannya,” kata Kadek Adi.

Untuk pengawalan jenazah, tim Polresta Mataram dan Dandim 1606/Lobar telah mengawal pengantaran jenazah hingga ke perbatasan wilayah hukum. Selanjutnya, pengawalan pengantaran jenazah hingga pemakaman dilakukan Polres Loteng. ”Proses pemakaman berjalan lancar dan aman,” tutupnya. (arl/r2)