VIDEO : KKP Mataram Jamin Penumpang Kapal Pesiar Bebas Korona

LOMBOK BARAT- Senini (9/3)  pagi pukul 06.30 Wita, kapal pesiar Albatros bersandar di Pelabuhan Gili Mas, Lembar, Lombok Barat. Kapal pesiar ini membawa 313 awak dan 377 penumpang. Baik awak dan penumpang diperiksa seluruhnya oleh petugas dari Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas II Mataram. Mereka naik ke atas kapal pesiar saat masih di tengah laut. Baru setelah seluruhnya dinyatakan klir, para penumpang diperbolehkan turun.

Kepala Kantor Kesehatan Pelabuhan Mataram dr. I Wayan Diantika menegaskan, timnya sudah mulai memeriksa kapal ini sekitar pukul 03.00 Wita dini hari. Tim beranggotakan 10 orang. Pemeriksaan dilakukan di tengah laut. Sebelum kapal diberikan izin untuk bersandar di pelabuhan Gili Mas. Tim KKP menggunakan boat untuk menuju kapal pesiar tersebut.

Ketika memasuki kapal, tim KKP terlebih dulu mendapat pemeriksaan kesehatan oleh tim kesehatan kapal pesiar Albatros. Suhu tubuh tim KKP dicek sebagai langkah kapal juga mengantisipasi masuknya virus Korona.

“Standar kesehatan di dalam kapal cukup ketat. Karena mereka juga tidak mau kapal terinveksi wabah penyakit menular (termasuk korona),” kata Diantika.

Pemeriksaan beres, giliran tim KKP Mataram yang kemudian bekerja dengan memeriksa dokumen kesehatan penumpang kapal. Baik kru maupun penumpang. Mereka meminta dokumen berupa Maritim Declaration Helath dari nakhoda. Termasuk riwayat perjalan kapal yang diketahui datang dari Pelabuhan Benoa Bali tersebut. Tim medis kapal juga menyerahkan semua dokumen riwayat kesehatan penumpang dan kru.

Anggota tim KKP Mataram memeriksa 313 kru kapal dan 377 penumpang yang sebagian besar berasal dari Eropa. Pemeriksaan dilakukan selama tiga jam. Mereka diperiksa tidak hanya kaitannya dengan virus korona. Tetapi juga terkait wabah penyakit menular lainnya.

Setelah dinyatakan klir, kapal Albatros baru diberi izin bersandar di Gili Mas sekitar pukul 06.30 Wita. Sekitar 170 penumpang turun untuk tour ke sejumlah destinasi wisata selama sehari. Sisanya memilih diam di dalam kapal.

“Kapal ini juga membentangkan bendera kuning. Itu artinya dari aturan internasional sudah aman,” kata Diantika.

Akan beda kalau ada yang sakit dan jenzah di dalam kapal. Maka, kapal tak akan membentangkan bendera warna kuning tersebut.

Setelah kapal sandar di pelabuhan, Kepala Dinas Perhubungan Provinsi NTB HL Bayu Windia juga masuk ke dalam kapal. Ia mengaku ditugaskan Gubernur NTB untuk ikut memantau kapal pesiar yang masuk ke wilayah NTB.

“Kami masuk tanpa masker,” kata Bayu.

Dia menegaskan, aksinya itu bukan untuk gagah-gagahan. Tetapi karena pihaknya memang percaya standar pengamanan yang dilakukan KKP Mataram.

Setibanya di dalam kapal, Bayu beserta beberapa orang harus mengikuti pengecekan kesehatan dengan pemindau suhu tubuh. Mereka juga harus steril dengan mencuci tangan. Di dalam, ia bertemu penumpang, kru, hingga kapten kapal.

Begitu penumpang kapal pesiar ini kembali dari destinasi wisata, sebelum masuk ke dalam kapal, mereka juga dicek kembali pada pukul 18.00 WITA. Hal ini untuk mengantisipasi virus atau penyakit menular masuk ke dalam kapal.

“Jadi tidak ada yang perlu ditakutkan. Pengecekan kesehatan sudah sesuai standar pengamanan,” terang Bayu.

Kepala KSOP Lembar Junaidin mengaku, pihaknya akan tetap memberikan pengawasan ekstra terhadap setiap kapal yang datang. Memastikan agar kapal benar-benar klir sehingga masyarakat tidak resah.

“Sebelum kapal pesiar sandar, mereka harus lapor ke KSOP Lembar 2×24 jam,” jelasnya.

Setelah itu, pihak kapal harus menaikkan bendera kuning tanda kapal aman saat berlabuh. Baru kemudian tim KKP Mataram naik melakukan pemeriksaan sebelum kapal sandar.

Ditanya terkait informasi mengenai Kapal Pesiar Viking Sun yang rencananya akan sandar di Pelabuhan Gili Mas, Junaidin memastikan kapal tersebut batal. Padahal, sesuai jadwal, kapal tersebut harusnya sandar di Pelabuhan Gili Mas Rabu (11/3) besok.

Sementara General Manager Pelindo III Pelabuhan Lembar Baharuddin menjelaskan, kedatangan Kapal Pesiar Albatros kemarin tidak terencana sejak awal. Karena kapal ini awalnya bakal berlabuh di perairan kawasan Senggigi. Namun, karena pertimbangan kesehatan penumpang yang rata-rata berusia di atas 50 tahun maka kapal memilih bersandar di Pelabuhan Gili Mas.

“Karena pengamanan di Pelabuhan Gili Mas sesuai standar,” kata dia.

Pada Maret ini, Baharuddin mengaku ada enam kapal pesiar yang dijadwalkan datang. Ia berharap enam kapal ini bisa sandar sesuai rencana di tengah isu virus Korona. (ili/ton/r6)