VIDEO : Dua Kali Masuk Bui, Papuk Jon Kembali Ditangkap Polisi

MATARAM-Sorang pria berinsial MB alias Papuk Jon tak juga kapok. Meski usia sudah memasuk 58 tahun, Papuk Jon masih saja mencuri. ”Kakek ini residivis. Sudah dua kali masuk penjara. Kasus sebelumnya juga mencuri,” kata Kapolsek Cakranegara AKP Zaky Maghfur, Senin malam (9/8).

Kali ini, Papuk Jon mencuri senapan angina di kos-kosan yang disewa M Karisma, di Jalan Sandubaya, Bertais, Mataram. ”Dia mencuri sekitar pukul 22.00 Wita, Sabtu (6/7) lalu,” terangnya.

Papuk Jon datang sendiri ke kamar kos. Dia masuk melalui jendela. ”Kaca jendela dipecahkan. Lalu masuk ke kamar kos,” bebernya.

Dia berhasil mengambil senapan angin laras panjang. Harganya, Rp 7,5 juta. ”Dari kejadian itu, korban  melapor ke polisi,” terangnya.

Dari hasil olah TKP, ada seorang saksi melihat seorang kakek membawa senapan angin. Karena Papuk Jon merupakan seorang residivis datanya sudah dikantongi. ”Tim terus mendalami dugaan yang mengarah ke Papuk ini,” ujarnya.

Tim opsnal Polsek Cakranegara mengawasi gerak-gerik Papuk Jon. Tim tidak bisa langsung menangkap Papuk Jon karena bukti kurang kuat. ”Kita dalami terus keterlibatan kakek  ini,” kata Zaky sambil menunjuk Papuk Jon.

Tak butuh waktu lama, tim opsnal mendapatkan kabar, adanya penjualan senapan angin laras panjang melalui facebook. Senapan yang di upload tersebut mirip dengan senapan angin milik korban. ”Kami langsung melakukan pengembangan,” ujarnya

Seorang yang memposting penjualan senapan angin melalui facebook tersebut diamankan. Lalu, diinterogasi. ”Dari keterangan saksi itu, menguatkan dugaan, Papuk ini adalah pelakunya,” bebernya.

Selanjutnya, tim menangkap Papuk Jon. ”Kita tangkap di warung miliknya, di sekitaran Bertais,” bebernya.

Jon mengaku, pihaknya sudah menjual senapan angin tersebut dengan harga Rp 600 ribu. ”Pembelinya, asal Kabupaten Lombok Utara (KLU),” ungkapnya.

Penyidik masih terus mengembangkan kasus tersebut. Mendalami apakah Papuk Jon sudah melakukan tindakan yang sama ditempat lainnya. ”Kita kesulitan melakukan penyidikan, karena Papuk ini mengalami gangguan pendengaran,” bebernya.

Akibat perbuatannya, Papuk Jon dijerat pasal 363 KUHP. Ancaman hukumannya tujuh tahun penjara. (arl/r2)