VIDEO: Warga Lotim Selundupkan Hampir Sekilo Sabu dari Pekanbaru

MATARAM-Penyelundupan sabu masih saja terjadi. Jumat (13/11) lalu, Badan Narkotika Nasional (BNN) NTB menangkap Sup (inisial, Red), 35 tahun dan Ag, 33 tahun di Bandara Internasional Lombok (BIL). Kedua warga Jurit, Kecamatan Pringgasela, Lombok Timur (Lotim), itu diduga menyelundupkan sabu dari Pekanbaru, Riau.

”Setelah kita timbang berat  bersih sabu (yang dibawa) 995 gram. Hampir satu kilogram,” kata Kepala BNN NTB Brigjen Pol Gde Sugianyar Dwi Putra, kemarin  (16/11).

Sabu itu dibawa Ag. Dia sengaja terbang ke Pekanbaru hanya untuk mengambil sabu. ”Dari informasi yang diterima dari masyarakat, tim langsung bergerak ke bandara,” jelasnya.

Petugas dari BNN kemudian berkoordinasi dengan pihak bandara. Ag yang baru tiba di BIL berhasil diringkus. Sabu  disimpan di dalam koper pakaian. ”Diletakkan di balik baju dan selimut. Jumlahnya delapan bungkus besar,” bebernya.

Ketika diinterogasi, Ag merahasiakan pemilik barang haram terbut. Tetapi, dia sudah ditunggu rekannya Sup di parkiran bandara. ”Tim kami langsung mengembangkan dan menangkap Sup di parkiran bandara,” jelasnya.

Selanjutnya mereka dibawa ke kantor BNN NTB  untuk penyidikan. ”Kita masih kembangkan dari siapa pelaku ini memesan barang  dan pemiliknya,” kata Sugianyar.

Dari pengakuan keduanya, mereka dijanjikan upah menggiurkan. Ag dijanjikan upah Rp 100 juta, sedangkan Sup tidak diberikan upah berupa uang. ”Kalau pelaku ini (Sup) menerima upah sabu seberat 1 ons,” terangnya.

Jika sabu yang diselundupkan lolos, rencananya Sup akan menjual sabu upahnya tersebut. ”Dia ini (Sup) juga sebagai pengedar,” terang Sugianyar.

Dari pemeriksaan, keduanya mengaku baru pertama kali membawa barang haram tersebut ke Lombok. ”Tetapi, kita tidak percaya pengakuannya. Kita masih terus kembangkan,” kata jenderal polisi bintang satu itu.

Selain menjadi kurir dan pengedar, keduanya juga pengguna. ”Hasil tes urine, keduanya positif menggunakan narkoba jenis sabu,” bebernya.

Sugianyar menjelaskan, Ag merupakan pekerja bengkel. Sedangkan Sup kesehariannya bekerja sebagai sopir. ”Tersangka Ag juga pernah bekerja sebagai TKI di Malaysia,” ujarnya.

Dari kasus yang pernah ada, rata-rata penyelundup sabu ke Lombok pernah menjadi pekerja migran Indonesia (PMI). ”Karena dari situ mereka berkenalan dengan jaringan dari luar negeri atau antar-provinsi,” jelasnya.

Sugianyar mengatakan, bila diuangkan sabu yang diselundupkan tersebut harganya Rp 1,8 miliar. Jika dikalkulasikan satu gram digunakan oleh 12 orang, berarti BNN NTB berhasil menyelamatkan 12 ribu anak bangsa. ”Tindakan pemberantasan ini menjadi salah satu untuk menekan permintaan narkoba,” kata dia.

Kini, Ag dan Sup terancam hukuman mati. Mereka dijerat pasal 114 ayat (2) dan atau pasal 112 ayat (2) Undang-undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. (arl/r1)