Destinasi Ditutup, Pelaku Wisata Senggigi Menangis

GIRI MENANG-Edaran pemerintah daerah baik Pemerintah Kabupaten Lombok Barat maupun Provinsi NTB membuat pelaku wisata di Senggigi menangis. Bagaimana tidak, kunjungan wisatawan ke Senggigi dua hari terakhir menurun drastis akibat adanya edaran terkait penutupan obyek wisata.

“Langkah pemerintah reaktif. Tidak mendengarkan pelaku usaha untuk mempertimbangkan dunia usaha,” ujar Owner Representatif Aruna Senggigi Resort and Convention Linggom M Siahaan kepada Lombok Post, Selasa (17/3).

Linggom juga menyayangkan edaran Gubernur NTB terkait penutupan akses jalur Bali ke Gili diterjemahkan berbeda oleh jajaran di bawahnya. Edaran diterjemahkan menjadi close area ke Gili dan NTB.

Padahal, ketika Gili ditutup, orang dari luar NTB akan khawatir untuk datang. Karena mereka tentu berpikir ada sesuatu yang menyebabkan Gili ditutup. Dampaknya kawasan pariwisata juga Senggigi akan terimbas. Pengusaha akhirnya menjadi bagian yang dikalahkan.

“Bagaimana dengan beban operasional yang harus kami hadapi. Beban pajak, beban gaji karyawan hotel dan lainnya. Kondisi ini membuat keberpihakan pemerintah daerah (ke pelaku wisata) tidak terlihat,” sesalnya.

Lima tahun terakhir, beban yang diterima pengusaha sangat berat. Mulai dari ombak tinggi, kenaikan harga tiket pesawat, gempa, hingga yang terbaru virus Korona.”Kesempatan berusaha tertutup karena larangan-larangan yang dibuat pemerintah,” imbuhnya.

Padahal upaya preventif dinilai jauh lebih efektif dan tidak menimbulkan masalah baru. Misalnya dengan melakukan pengecekan kesehatan secara maksimal. Baik menggunakan termal scan dan menyiapkan hand sanitizer.

Sehingga, ia mewakili para owner hotel yang ada di Senggigi meminta pemerintah mulaimemikirkan upaya preventif dengan pengecekan kesehatan. Melakukan sosialisasi hidup sehat di masyarakat.

Pihak hotel sendiri sudah melakukan upaya preventif dengan melakukan pengecekan kesehatan terhadap semua tamu hotel. Misalnya dengan pengecekan suhu tubuh, penyediaan hand sanitizer untuk membersihkan tangan dan melakukan disinfektan sarana prasarana yang ada di hotel.

Sayangnya, upaya pihak hotel seoalah tidak ada artinya. Menyusul, selain edaran gubernur, Bupati Lobar juga mengeluarkan edaran Nomor 440 tahun 2020. Kaitannya dengan imbauan pencegahan wabah Korona di Lobar.

Dalam edaran yang dikirim Plt Kepala Dinas Pariwisata Lobar Hj Lale Priyatni kepada Lombok Post, di poin nomor dua terdapat imbauan yang berkaitan dengan pariwisata. Imbauan berisi penutupan sementara semua aktivitas pelayaran (kecuali logistik diatur secara khusus), obyek wisata, tempat rekreasi atau tempat hiburan yang ada di Lobar.

Dampaknya, edaran ini memukul telak para pelaku wisata di Senggigi. “Tindak lanjut surat edaran bupati. Silakan terjemahkan sendiri,” ujar Lale via WhatsApp.

Dampaknya, pembatalan kunjungan terus dilakukan wisatawan yang sebelumnya berencana menginap di hotel. Berbagai macam kegiatan juga ikut dibatalkan.

“Okupansi saat ini Sekitar 20 persen. Seharusnya Selasa Rabu okupansi kami 70-80 persen. Tapi karena banyak yang cancel sekarang 20 persen, bahkan hari ini (kemarin, Red) 15 persen,” timpal General Manager Aruna Senggigi Resort and Convention.

Merosotnya okupansi ini karena ada kegiatan MICE dengan rombongan yang cukup besar selama dua hari di Aruna Senggigi dibatalkan. Akibat adanya edaran penutupan obyek wisata. “Sejak Minggu sudah drop banget karena banyak event cancel. Nangis kita semua ini,” ungkap Weni.

Senada, General Manager Hotel Jayakarta Cerry Abdulhakim mengaku kondisi okupansi sedang anjlok. “Okupansi menurun drastis. Sampai 20-30 persen mulai tanggal 16 Maret (Senin) kemarin,” akunya. (ton/r3)