VIDEO : Edarkan Uang Palsu Bermodus Dukun Penggandaan Uang

65

MATARAM-Polresta Mataram membongkar jaringan pembuat dan pengedar uang palsu, Selasa (17/8) lalu. Modusnya hendak menjadi dukun penggandaan uang.

Enam orang diringkus. Masing-masing berinisial MH, 56 tahun; AD, 52 tahun; JN, 34 tahun; MST, 58 tahun; MN, 60 tahun; dan PY, 17 tahun. Mereka tergolong nekat dan menggunakan cara-cara amatiran dalam membuat dan menggunakan uang palsu.

Kapolresta Mataram Kombes Pol Heri Wahyudi menerangkan pengungkapan itu berawal dari penangkapan MN. Pria asal Lingsar, Lombok Barat (Lobar), itu tertangkap saat membeli rokok di salah satu warung di Desa Gegelang. ”Saat ditangkap kita juga temukan belasan lembar uang palsu di sakunya,” kata Heri, kemarin (19/8).

Kepada polisi, MN mengaku uang palsu itu didapatkan dari MST yang beralamat di Desa Gegelang. Polisi pun menggerebek rumah MST. ”Kita dapatkan ratusan uang palsu pecahan Rp 100 ribu,” bebernya.

MST mengaku ratusan lembar uang palsu itu merupakan titipan rekannya berinisial MH. Polisi langsung bergerak melacak keberadaan MH di wilayah Sakra Timur, Lombok Timur (Lotim).

MH berhasil ditangkap bersama JN, AD, dan PY. Dari penggeledahan ditemukan 3.998 lembar uang palsu pecahan Rp 100 ribu. Uang palsu itu ditemukan di dalam karung warna putih. “Total barang bukti uang palsu ini Rp 500 jutaan atau setengah miliar,” jelasnya.

Selain itu polisi menemukan laptop, kertas HVS, tinta, dan printer. Peralatan itu digunakan untuk mencetak uang palsu. ”Mereka mencetak uang palsu secara manual menggunakan kertas HVS,” ungkapnya.

MH menjadi otak pelaku pembuatan uang palsu ini. Dia membayar AD yang dibantu PY untuk mencetak uang palsu. ”Yang mencetak dibayar Rp 4 juta,” kata Heri.

Uang palsu yang dicetak belum sempat diedarkan. Uang itu baru digunakan MN saat membeli rokok di Desa Gegelang, Lingsar, Lobar.

Rencananya, mereka akan menggunakan uang palsu itu dalam praktik perdukunan menggandakan uang. MH yang bertindak sebagai dukun akan mencoba mengelabui calon korban. ”Jadi, uang Rp 100 ribu nanti akan digandakan menjadi dua uang palsu. Uang Rp 100 ribu yang asli diambil MH,” jelasnya.

Sejauh ini, MH belum mempraktikkan menjadi dukun penggandaan uang. ”Itu masih rencana,” ungkapnya.

Sementara itu, tersangka MH mengaku bakal menyamar menjadi dukun pengganda uang. Agar masyarakat banyak datang ke tempatnya. ”Tujuan saya untuk menggandakan uang dengan cara orang-orang datang ke tempat saya,” kata MH.

Pria yang kesehariannya menjadi petani itu mengaku untuk menggandakan uang pemohon harus membawa uang pecahan Rp 100 ribu asli. Uang asli itu nantinya akan ditukar dengan dua uang pecahan Rp 100 ribu palsu. ”Untungnya saya mendapatkan uang Rp 100 ribu asli,” kata dia.

Sebelum menggandakan uang, pemohon nantinya akan diminta juga membawa seserahan. Lalu seserahannya akan dibacakan doa. “Nanti saya bacakan doa sebelum orang yang minta penggandaan uang menyerahkan uang asli,” akunya.

Untuk mencetak uang palsu, MH menyuruh AD. Karena, AD yang paham menggunakan komputer. ”Saya bayar dia (AD) Rp 4 juta,” ujarnya.

Pembayarannya bertahap. Untuk mencetak uang palsu sejumlah 2.500 lembar pecahan Rp 100 ribuan dia mendapatkan upah Rp 2 juta. “Sudah ada 5.000-an lembar yang dicetak,” sebutnya.

Saat jumpa pers, AD mempraktikkan cara membuat uang palsu. Awalnya, dia mengunduh gambar uang pecahan Rp 100 ribu di Google. Selanjutnya gambar pecahan itu di-copy-paste ke Microsoft Word. ”Saya tempel di aplikasi ini. Lalu saya print. Satu kertas HVS bisa menghasilkan empat lembar uang palsu,” kata AD.

Mantan TKI itu belajar mengoperasikan komputer dari Google. Selanjutnya ia terapkan untuk mencetak uang palsu. ”Karena ada pesanan dan diupah cukup besar makanya saya terima,” katanya.

Kini, enam orang jaringan pembuat dan pengedar uang palsu itu terancam 10 tahun penjara. Mereka dijerat pasal 36 juncto pasal 26 ayat (1), (2), dan (3) Undang-undang Nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang. (arl/r1)