VIDEO : Polisi Bongkar Pabrik Sabu di Pringgasela Lotim

987

Peredaran gelap narkoba di Provinsi NTB benar-benar mengkhawatirkan. Pera pelakunya menggunakan beribu macam cara. Bahkan sudah ada yang memproduksi barang haram itu di daerah ini. Polisi sudah berhasil membongkarnya.

===

SEBUAH rumah di Pringgasela, Lombok Timur (Lotim), digerebek tim gabungan Ditresnarkoba Polda NTB dan Satresnarkoba Polres Lotim, Sabtu sore (21/11). Rumah milik SU alias Ustad itu disebut-sebut sebagai tempat produksi sabu.

Dirresnarkoba Polda NTB Kombes Pol Helmi Kwarta Kusuma Putra Rauf menerangkan, si Ustad, pemilik rumah itu memproduksi sabu atas arahan seorang narapidana narkoba yang mendekam di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Mataram berinisial MY alias Jenderal Yusuf. ”Si Jenderal dan si Ustad ini menjalan bisnis produksi sabu rumahan,” kata Helmi dalam keterangan pers di kantornya, kemarin (22/11).

Informasi itu diperoleh polisi dari pengembangan penangkapan delapan orang jaringan pengedar sabu di Lotim. Delapan orang tersebut ditangkap di sebuah rumah kos-kosan di Muhajirin, Selong, Sabtu siang. Mereka masing-masing berinsial SRA alias Hardi; RS alias Rio; HA alias Dogok; RP alias Rizal; LN alias Lukman; RAK alias Ram; HD alias Ham; dan SH alias Dayat. ”Peran mereka ada yang menjadi bandar, pengedar, dan pembeli,” jelasnya.

Delapan orang tadi ditangkap di kamar masing-masing. Di kamar pertama, polisi menangkap Hardi dan Rio. Di kamar kedua, Dogok dan Rizal diringkus; kamar ketiga polisi menciduk Lukman dan Ram; terakhir di kamar keempat Ham dan Dayat yang diringkus. ”Kita duga kos-kosan itu dijadikan sebagai markas mereka,” kata Helmi.

Di kamar kos pertama dan kedua polisi menemukan lima poket sabu. Berat brutonya 15,28 gram. “Di kamar itu kita juga temukan timbangan digital, bong sabu serta menyita handphone mereka,” tutur Helmi didampingi sejumlah stafnya.

Di kamar ketiga, polisi menemukan satu klip sabu seberat 0,44 gram. Juga ditemukan timbangan digital, bong sabu, dan uang dari dompet Lukman Rp 2,4 juta. ”Sabu itu kita temukan di kamar mandi,” ungkapnya.

Kamar terakhir, ditemukan barang bukti sabu 0,40 gram serta uang tunai Rp 7,1 juta. ”Kita duga uang itu hasil dari penjualan sabu,” kata dia.

Delapan orang tersebut mengaku mendapatkan sabu dari Ustad di Pringgasela. ”Kami langsung melakukan pengembangan,” ujarnya.

Polisi langsung meluncur ke Pringgasela menangkap si Ustad. Di tempat itu, polisi juga menangkap seorang pemuda berinisial RW alias RIS. ”RW ini merupakan peluncur dari pak Ustadz,” kata Helmi.

Dan benar. Ketika menggeledah rumah si Ustad, polisi mendapati ada ruangan khusus tempat memproduksi sabu. ”Kita temukan beberapa peralatan untuk membuat sabu,” kata Helmi sambil menunjukkan beberapa barang yang dipajang di atas meja saat memberikan keterangan pers.

Peralatan itu antara lain alat pemadam api, kotak aluminium foil, kompor elektrik, cairan mekiheitamin, cairan mixsofer, dan satu liter cairan dimethyl sulfoxide. ”Cairan itu merupakan bahan membuat sabu,” jelasnya.

Menurut Helmi, semua bahan sabu itu dipesan Jenderal Yusuf dari Malaysia. Si Jenderal yang sedang sedang menjalani hukuman di Lapas Mataram mengontrol produksi sabu yang dilakukan si Ustad melalui komunikasi via handphone. ”Jenderal mengontrol, Ustad membuat, dan yang lainnya menjadi pengedarnya,” kata dia.

Dari aktivitas ilegal itu, si Ustad menerima upah Rp 100 juta dari si Jenderal. Angka yang sangat besar membuatnya kepincut untuk memproduksi sabu. ”Si Ustad ini seorang guru ngaji di rumahnya. Tetapi itu hanya kedok saja,” kata Helmi.(arl/r1)