VIDEO : Bocah Asal Lembar Lobar Alami Pendarahan Otak, Butuh Bantuan Dermawan

GIRI MENANG-Nasib malang dialami Muhammad Fikri, bayi usia 2,5 bulan asal Desa Jembatan Gantung, Kecamatan Lembar. Anak kedua pasangan Supriadi dan Zaidatul ini diduga mengalami pendarahan di otak.

Lantaran tak ada biaya, kini ia dirawat di rumah ibunya di Dusun Batu Samban Desa Lembar Selatan. “Hasil scan kata dokter ada pendarahan di otak. Darah di otaknya katanya membeku sehingga menyebabkan terjepit, makanya dia muntah-muntah terus dan sesak nafas,” tutur Zaidatul kepada wartawan, Kamis (25/6).

Gejala sakit yang dialami Fikri mulai dialami ketika usianya satu bulan tujuh hari. Balita yang lahir dengan bantuan dukun beranak ini menunjukkan kelainan di bagian kepala. Bagian kepala belakangnya lembek dan ada guratan. Itu yang diduga menyebabkan Fikri kerap menangis sepanjang hari hingga malam.

Zaidatul menuturkan, proses kelahiran anaknya dibantu oleh dukun beranak lantaran fasilitas kesehatan dari tempat tinggalnya di Dusun Gerebekan, Desa Jembatan Gantung sulit dijangkau. Rumahnya berada di atas perbukitan dengan jalan bebatuan.

Bahkan menggunakan kendaraan sepeda motor sekalipun cukup sulit menempuh lokasi tempat tinggal Zaidatul dan suaminya. Sehingga harus jalan kaki sekitar tiga kilo meter. “Kemarin sudah dibawa ke RS Gerung dan dirawat tiga hari di sana. Satu hari di IGD dan dua hari di ICU,” bebernya.

Sayangnya, Fikri terpaksa dipulangkan meski belum sembuh karena tidak ada biaya untuk berobat lebih lama di rumah sakit. Fikri sudah mendapatkan bantuan sosial untuk berobat dari pemerintah kabupaten Rp 5 juta.

Tapi, selama dirawat di rumah sakit, biaya yang dihabiskan sekitar Rp 8 juta. “Makanya ini saja masih pinjam Rp 3 juta untuk berobat di rumah sakit,” beber Maulida, nenek Fikri.

Sepulang dari rumah sakit, Fikri sempat koma tiga hari. Balita malang tersebut tak sadarkan diri. Namun, keluarganya bersyukur kini ia sudah bisa membuka mata.

“Cuma kalau malam dia nggak bisa tidur. Sering nangis mungkin karena efek sakit yang dirasakan di kepalanya,” tutur Maulida.

Orang tua Fikri kini sudah mendaftarkannya di BPJS Kesehatan. Namun kartu tersebut baru bisa aktif dua pekan lagi. Pihak keluarga juga mengaku ada pihak yang datang menawarkan membantu untuk pengobatan Fikri dengan melakukan operasi. Namun pihak keluarga menolak.

“Jangan dioperasi karena kasihan bayi kami terlalu kecil usia 2,5 bulan. Kami tidak tega melihat dia dioperasi. Kami berharap dia bisa diobati tanpa operasi,” ungkap Zaidatul.

Diketahui, alasan Zaidatul kesulitan memiliki kepesertaan BPJS Kesehatan karena tidak memiliki dokumen kependudukan. Lantaran, perempuan ini menikah saat usia 15 tahun ketika ia masih duduk di bangku SMP. Ditambah suaminya yang bekerja serabutan menjadi buruh lepas membuatnya tak punya banyak biaya membayar iuran.  Penghasilannya tidak menentu. Kadang kalau tidak ada yang dimakan, Zaidatul bersama suaminya pulang ke Batu Samban minta beras dan bahan pangan.

Kepala Dusun Batu Samban Zainal Arifin membeberkan jika Zaidatul memang melangsungkan pernikahan saat usianya masih di bawah umur. “Menikah di bawah tangan saat usia 15 tahun,” bebernya.

Sehingga, dikhawatirkan, apa yang dialami anaknya juga menjadi salah satu dampak ketidaksiapan fisik dan psikologisnya saat melahirkan. Disamping adanya faktor-faktor lain. Ia berharap, ke depan tidak ada lagi warganya yang menikah di bawah umur 19 tahun. Agar risiko kesehatan bisa dicegah. “Perlu juga kesadaran orang tua agar tidak membiarkan anak mereka menikah di bawah umur,” harapnya. (ton/r3)