VIDEO: Polisi Usut Pidana Limbah Medis di Eks Gedung RS Mata

35

MATARAM-Limbah medis di eks Rumah Sakit (RS) Mata NTB menjadi atensi kepolisian. Polresta Mataram telah menurunkan tim untuk menyelidiki bagaimana limbah berbahaya tersebut bisa berserakan. “Ya kita selidiki juga unsur pidana dari pengelolaannya,” kata Kasatreskrim Polresta Mataram Kompol Kadek Adi Budi Astawa.

Rabu (22/12), Kadek Adi mendatangi eks gedung RS Mata NTB bersama tim. Mereka berkoordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup NTB, Dinas Kesehatan NTB, RS Mata, dan SLB Negeri 2 Mataram yang menempati gedung tersebut. ”Kita cari solusi atas limbah tersebut agar segera ditindaklanjuti,” kata dia.

Polisi dan Dinas Lingkungan Hidup mendata jenis limbah yang berserakan. Itu untuk mengetahui siapa yang bertanggung jawab terhadap limbah tersebut. ”Yang paling urgent saat ini adalah bagaimana cara limbah ini segera diangkut dan dimusnahkan. Karena lokasi limbah dengan sekolah sangat berdekatan. Jangan sampai memunculkan persoalan baru,” kata Kadek Adi.

Menurutnya, limbah medis yang berserakan mengganggu jalannya kegiatan belajar mengajar di SLB Negeri 2 Mataram. Di lokasi tersebut bekas jarum suntik, kondom, infus, obat-obatan, dan bahan medis cair berserakan. Limbah itu sering memunculkan aroma tak sedap. ”Makanya kami berikan police line agar masyarakat tidak mendekat ke lokasi,” katanya.

Pihak kepolisian sudah memanggil pihak RS Mata ke lokasi. Utusan dari RS Mata mengatakan, sebelum pindah menempati eks gedung RSUP NTB, pihaknya sudah membersihkan semua limbah medis.

Namun Kadek Adi masih belum percaya dengan keterangan itu. Karena fakta di lapangan limbah medis berserakan. ”Yang kita lihat fakta di lapangan. Bukan pernyataan normatif,” kata dia.

Namun belum disimpilkan apakah limbah medis itu memang dari RS Mata atau pihak lain. Karena seluruhnya masih dalam proses penyelidikan. “Tunggu hasil penyelidikannya seperti apa. Nanti kita periksa sejumlah saksi,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala SLB Negeri 2 Mataram Winarna mengatakan, limbah tersebut sudah ada sejak mereka pindah menempati gedung eks RS Mata. ”Kita menggunakan gedung ini sejak enam bulan lalu,” ujarnya.

Karena ada persoalan limbah medis yang belum dibersihkan, sehingga hanya sebagian siswa yang diperkenankan masuk. ”Baunya menyengat. Sangat mengganggu,” ungkap Winarna.

 

Telusuri Kerugian Negara

 

Hasil pengecekan lapangan, ditemukan beberapa obat yang tidak dalam keadaan kedaluwarsa. Sebenarnya obat tersebut bisa digunakan. ”Kita temukan ada obat yang kedaluwarsanya hingga tahun 2022. Kenapa bisa ada di sini,” keluh Kadek Adi.

Obat-obatan yang belum kedaluwarsa itu ditemukan dalam tumpukan dus dekat limbah cair. Di sampingnya terdapat tulisan tanda bahaya. ”Saya tidak tahu kenapa obat-obatan yang seharusnya masih bisa dipakai malah ditaruh di tempat seperti ini,” gumamnya.

Hal itu memunculkan kecurigaan ada tindak pidana lain. Bisa saja mengarah ke tindak pidana korupsi. ”Ini kan bisa saja memunculkan kerugian negara. Makanya nanti saya koordinasi dengan bidang Tipikor,” ujarnya.

Pihaknya akan menerjunkan tim Tipikor untuk mendalami obat-obatan yang belum kedaluwarsa tersebut. “Jika ada indikasi korupsinya akan kita lanjutkan prosesnya,” ujarnya.

Dia mengagendakan memanggil kepala Dinas Kesehatan NTB dan Kota Mataram untuk memberikan penjelasan. Termasuk saksi-saksi lain terkait keberadaan obat-obatan yang belum kedaluwarsa. ”Semua akan kita panggil dulu,” kata Kadek Adi. (arl/r1)