VIDEO : Satresnarkoba Polres Lotim Tangkap Kurir Sabu Antar Provinsi

201 Gram Sabu Disembunyikan di Dubur

101

SELONG-RF, 32 tahun, warga Desa Aikmel, Kecamatan Aikmel ditangkap Satresnarkoba Polres Lotim saat hendak membawa masuk narkoba jenis sabu ke Lombok Timur. “Tersangka kami tangkap di perbatasan Jenggik, Desa Jenggik Utara, Kecamatan Terara pada Rabu malam, 25 Agustus lalu,” kata Kapolres Lotim AKBP Herman Suriyono saat konferensi pers di Maporles Lotim, kemarin (30/8).

Pada saat digeledah di tempat penangkapan, Tim Opsnal Satresnarkoba Polres Lotim tak menemukan barang bukti di tubuh tersangka. Kata Herman, selanjutnya petugas mengintrogasi tersangka RF dan diakui bahwa barang haram tersebut disimpan di dalam duburnya.

Mengetahui hal tersebut, tersangka langsung dibawa ke RSUD Selong untuk dirontgen. “Berdasarkan hasil rontgen, terlihat dua bungkus sabu yang dikemas seperti telur di dalam tubuh korban,” jelas Herman.

Dari kepastian hasil rontgen tersebut, pihaknya langsung memberikan obat agar tersangka bisa segera buang air besar. RF pun kemudian mengeluarkan barang haram tersebut.

Kata Herman, sabu tersebut dibungkus dengan plastik bening berbentuk oval atau telur. “Ada dua bungkus. Total keduanya 201 gram,” kata Herman.

Berdasarkan hasil pendalaman kasus, RF merupakan kurir yang membawa barang tersebut dari Sumatera. Ia terbang menggunakan pesawat Citilink, transit Jakarta. Barang haram yang dibawa ity rencana akan diedarkan di wilayah Lotim. “Peredaran narkoba yang kita ungkap ini memang antar provinsi,” ujarnya.

Kasatnarkoba Polres Lotim Iptu I Gusti Ngurah Bagus Suputra menerangkan, selain 201 gram sabu, barang bukti lainnya yang diamankan adalah uang senilai Rp 1,8 juta, satu lembar boardingpass, dua buah handpone, tas warna hitam, dan satu buah dompet.

Sebagai kurir, RF mendapat bayaran setelah barang sampai. Berdasarkan keterangan RF, ia dibayar Rp 15 juta per ons. Kata Suputra, adapun harga barang haram seberat 201 gram tersebut bisa mencapai Rp 200 juta. “Kalau dijual eceran, bisa dua kali lipat,” kata Suputra.

RF dikenakan pasal 114 ayat 2 sub pasal 112 ayat 2 UU nomor 35 tahun 2009 tentang narkotika. “Ancaman hukuman minimal 6 tahun dan maksimal 20 tahun,” tambahnya. (tih/r5)