Sebuah destinasi yang menawarkan drama visual tak biasa. Perpaduan kontras antara bebatuan hitam legam dengan hamparan pasir putih yang memikat mata.
Perjalanan menuju Tanawu memakan waktu sekitar 1,5 jam dari pusat Kota Bima. Meski cukup menguras tenaga, lelah itu akan terbayar lunas saat aroma laut mulai menyapa.
Tanawu bukanlah pantai seragam yang hanya mengandalkan garis pantai landai. Di sini, alam memahat estetika lewat formasi bebatuan vulkanik hitam yang berserakan di bibir pantai, menciptakan kontras dramatis dengan air laut biru kehijauan yang jernih.
Keunikan Tanawu tak berhenti pada warna bebatuannya. Pantai ini dipagari oleh tebing-tebing menjulang tinggi yang memberikan kesan megah sekaligus terlindungi.
Di sisi lain, sejauh mata memandang, terdapat padang savana sepi yang memberikan nuansa liar namun menenangkan, sebuah lanskap yang jarang ditemukan di destinasi pesisir lainnya.
”Tanawu adalah surga bagi mereka yang mencari kemurnian. Keindahannya terletak pada keasliannya yang belum terjamah oleh komersialisasi,” ujar Idham, salah satu wisatawan lokal.
Bagi pecinta fotografi, setiap sudut Tanawu adalah spot mahakarya. Mulai dari deburan ombak yang pecah di bebatuan hitam hingga hamparan pasir putih yang masih bersih dari jejak sampah plastik.
Karena belum tersentuh pembangunan fasilitas komersial seperti hotel atau resor mewah, pengunjung dapat merasakan pengalaman autentik. Menginap di rumah-rumah penduduk setempat di Desa Lere menjadi pilihan menarik.
Di sana, keramahan warga desa nelayan akan menyambut wisatawan dengan sajian masakan khas Bima yang kaya rempah. Memberikan pengalaman wisata budaya yang menyentuh hati.
Akses menuju lokasi disarankan menggunakan kendaraan pribadi atau jasa sewa mobil.
Mengingat statusnya sebagai destinasi yang sedang berkembang, kesadaran pengunjung untuk menjaga kebersihan menjadi kunci utama. Pariwisata bertanggung jawab adalah syarat mutlak agar ekosistem Tanawu tetap terjaga.
Pantai Tanawu bukan sekadar tempat berlibur, melainkan pengingat betapa kayanya alam Dana Mbojo.
Bagi jiwa petualang yang jenuh dengan keriuhan destinasi populer, Tanawu menawarkan ketenangan dalam kesunyiannya.
Sebuah tempat di mana waktu seolah melambat, membiarkan manusia bercengkerama kembali dengan alam yang jujur dan apa adanya.
Editor : Kimda Farida