Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Tren "Sewa Karyawan Palsu" di China Menguak Tingginya Angka Pengangguran Remaja

Sanchia Vaneka • Rabu, 16 Juli 2025 | 14:04 WIB

 

Photo
Photo

LombokPost--Angka pengangguran yang terus meningkat di China memicu munculnya fenomena unik sekaligus memprihatinkan: layanan "sewa karyawan" atau "pura-pura kerja" bagi para penganggur, terutama generasi muda.

Tren ini menjadi sorotan setelah sebuah unggahan di media sosial mengungkapkan bagaimana individu yang menganggur dapat menyewa kantor dan menyimulasikan rutinitas bekerja untuk menyembunyikan status mereka dari keluarga. 

Menurut informasi yang beredar, layanan ini memungkinkan individu untuk menyewa meja kerja, lengkap dengan akses ke fasilitas kantor, mulai dari pukul 10 pagi hingga 5 sore.

Baca Juga: Efek Perang Iran dan Israel ke RI, BBM Bisa Meledak! Ekonomi China dan Jepang Goyang, Indonesia Kena Imbas

Bahkan, beberapa paket menawarkan fasilitas makan siang atau biaya tambahan sebesar 50 yuan per hari untuk "bertingkah sebagai eksekutif.

Tujuan utama dari layanan ini adalah membantu para penganggur, khususnya kaum muda, untuk tetap terlihat sibuk dan produktif di mata keluarga mereka, menghindari stigma sosial yang sering menyertai status pengangguran

Fenomena ini mencerminkan kondisi pasar kerja di China yang kian ketat, terutama bagi kaum muda.

Baca Juga: Usai Bekuk China, Timnas Dijamu Prabowo dan Dapat Hadiah Jam Rolex!

Data terbaru dari South China Morning Post menunjukkan bahwa tingkat pengangguran kaum muda perkotaan di China yang berusia 16 hingga 24 tahun telah mencapai 15,8 persen.

Angka ini melonjak tajam, menandakan tekanan besar yang dihadapi lulusan baru dan pencari kerja muda dalam menemukan pekerjaan yang layak.

Beberapa faktor disinyalir menjadi pemicu tingginya angka pengangguran ini, termasuk perlambatan ekonomi, restrukturisasi industri, dan ketidakcocokan antara keterampilan lulusan dengan kebutuhan pasar.

Akibatnya, banyak generasi muda terpaksa mencari solusi kreatif, bahkan jika itu berarti membayar untuk "berpura-pura bekerja," demi menjaga reputasi dan martabat di hadapan keluarga.

Baca Juga: Kalah dari Garuda, Publik China Ramai-ramai Minta Laga Indonesia vs China Diulang

Tren "sewa karyawan palsu" ini tidak hanya menyoroti tantangan ekonomi di China, tetapi juga memunculkan pertanyaan tentang tekanan sosial yang dihadapi individu dalam masyarakat yang sangat kompetitif.

Ini adalah cerminan nyata dari krisis pengangguran yang melanda sebagian besar generasi muda di negara tersebut. 

Situasi ini mendesak pemerintah dan sektor swasta untuk lebih serius dalam menciptakan lapangan kerja yang substansial dan mendukung transisi generasi muda dari bangku pendidikan ke dunia kerja.

Tanpa intervensi yang berarti, fenomena seperti "sewa karyawan palsu" kemungkinan akan terus berlanjut, memperparah masalah sosial yang ada.

Editor : Kimda Farida
#pengangguran #China