LombokPost - Crunomys tompotika, spesies baru tikus hutan dari Gunung Tompotika, Sulawesi Tengah, resmi dideskripsikan oleh tim peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama mitra internasional.
Penemuan tikus hutan Crunomys tompotika ini menambah daftar panjang satwa endemik Sulawesi dan menegaskan pulau ini sebagai “laboratorium alami” evolusi mamalia dunia.
Spesies baru ini ditemukan di hutan pegunungan alami Gunung Tompotika. Tikus hutan Crunomys tompotika memiliki ciri khas tubuh sedang, ekor relatif pendek, dan bulu rapat yang menjadi karakteristik genus Crunomys.
“Penemuan Crunomys tompotika menambah daftar panjang mamalia endemik Sulawesi yang terus bertambah seiring intensifnya eksplorasi lapangan,” kata Peneliti PRBE BRIN, Anang Setiawan Achmadi.
Tak hanya mendeskripsikan spesies baru, penelitian ini juga merevisi taksonomi besar dengan menyatukan seluruh spesies Maxomys (tikus berduri/spiny rats) ke dalam genus Crunomys.
Hasil analisis genomik resolusi tinggi menunjukkan bahwa Maxomys tidak membentuk kelompok monofiletik jika dipisahkan dari Crunomys.
Revisi ini dianggap paling tepat untuk mencerminkan hubungan evolusi sebenarnya.
Penemuan tikus hutan Crunomys tompotika dari Gunung Tompotika ini sekaligus membuka wawasan baru mengenai sejarah evolusi hewan kecil di kawasan Wallacea.
“Data ini diharapkan memperkuat kebijakan konservasi dan memacu riset lanjutan dalam mendokumentasikan kekayaan hayati Indonesia,” ujar Anang.
Sejak 2012, lebih dari 20 spesies mamalia baru telah dideskripsikan dari Sulawesi.
Temuan terbaru ini semakin menegaskan bahwa Sulawesi adalah pusat biodiversitas yang luar biasa penting, baik bagi Indonesia maupun dunia. Publikasi lengkap penemuan Crunomys tompotika telah diterbitkan di Journal of Mammalogy edisi Juni 2025.
Dengan temuan Crunomys tompotika, Sulawesi kembali membuktikan diri sebagai wilayah kunci untuk memahami keanekaragaman hayati global.
Penemuan ini juga memperlihatkan betapa pentingnya eksplorasi lapangan, kolaborasi internasional, dan teknologi genomik dalam mengungkap misteri alam Indonesia.
Editor : Rury Anjas Andita