Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Bukan Sekadar Seremonial! Momentum Nuzulul Qur’an Jadi Kunci Bangkitnya Peradaban Melalui Spirit "Iqra"

Nurul Hidayati • Jumat, 6 Maret 2026 | 16:00 WIB

Siswa SMPN 23 Mataram melaksanakan tadarus Alquran di musala sekolah setempat, belum lama ini.
Siswa SMPN 23 Mataram melaksanakan tadarus Alquran di musala sekolah setempat, belum lama ini.

LombokPost - Peringatan Nuzulul Qur’an yang jatuh setiap tanggal 17 Ramadhan bukan sekadar momentum untuk mengenang turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW.

Lebih dari itu, peristiwa agung di Gua Hira tersebut membawa pesan peradaban yang sangat kuat melalui perintah pertama: Iqra’ atau bacalah.

Dalam sebuah naskah khutbah yang disusun oleh H. Muhammad Faizin (Ketua PCNU Pringsewu), ditekankan bahwa kebangkitan umat manusia dimulai dari tradisi literasi membaca dan memahami.

Wahyu pertama yang turun bukanlah perintah shalat atau zakat, melainkan perintah untuk membaca sebagai jalan menuju ketakwaan yang kokoh.

Takwa Tanpa Ilmu Akan Rapuh Naskah tersebut mengingatkan jamaah bahwa ketakwaan tidak hanya sebatas ibadah ritual.

"Takwa tanpa ilmu akan rapuh, dan ilmu tanpa membaca tidak akan tumbuh," demikian petikan pesan mendalam tersebut.

 Momentum Nuzulul Qur’an seharusnya menjadi alarm bagi umat Islam untuk menghidupkan kembali tradisi membaca, baik membaca ayat-ayat qauliyah (teks Al-Qur'an) maupun ayat-ayat kauniyah (tanda-tanda kebesaran Allah di alam semesta).

Keunggulan Al-Qur’an yang Bertahap Mengutip Syekh ‘Abdul Qadir Jilani, khutbah tersebut menjelaskan mengapa Al-Qur’an diturunkan secara bertahap selama 23 tahun, berbeda dengan kitab-kitab sebelumnya yang turun sekaligus.

Proses bertahap ini adalah bentuk kasih sayang Allah agar umat manusia tidak merasa berat dalam menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya, sehingga tidak berakhir dengan pembangkangan seperti kaum-kaum terdahulu.

Membangun Peradaban dengan Pemikiran Di tengah dinamika zaman, umat Islam diajak untuk tidak hanya menjadikan Al-Qur’an sebagai penghias lemari.

Peradaban besar tidak dibangun dengan kebisingan atau kemarahan, melainkan dengan pencerahan dan pemikiran yang bersumber dari wahyu Ilahi.

"Jika kita ingin bangkit, jawabannya bukan sekadar pada jumlah umat, tetapi pada kualitas ilmu dan kesadaran dalam menjalani kehidupan," tegas naskah tersebut.

Melalui semangat Nuzulul Qur’an, umat diharapkan mampu merefleksikan diri: sudahkah Al-Qur’an dibaca setiap hari? Sudahkah maknanya dipahami dan diamalkan dalam kehidupan nyata? Inilah esensi dari membangun peradaban mulia yang dimulai dari satu kata: Iqra’.

Editor : Kimda Farida
#literasi #tradisi #zakat #shalat #perintah #Nuzulul Qur'an