LombokPost - “Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaf: 18)
Menurut Syaqroni Nur Wachid, Da’i Muda Muhammadiyah, media sosial telah menjadi ruang publik baru yang sangat berpengaruh dalam kehidupan umat Islam.
Dakwah tidak lagi terbatas di mimbar masjid, majelis taklim, atau ruang kelas. Tetapi telah berpindah ke layar gawai: WhatsApp, Facebook, Instagram, TikTok, X, dan berbagai platform digital lainnya.
Di satu sisi, media sosial membuka peluang dakwah yang sangat luas dan cepat. Namun di sisi lain, ia juga menyimpan potensi besar terjadinya dosa digital yang terus mengalir, bahkan setelah pelakunya lupa atau meninggal dunia.
“Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaf: 18)
Puasa Ramadan tidak hanya mengajarkan pengendalian diri dari makan dan minum, tetapi juga menuntun umat Islam untuk menjaga etika dalam setiap perilaku, termasuk dalam bermedia sosial.
Di era digital, media sosial telah menjadi ruang interaksi yang sangat luas, tempat lisan dan tulisan berpadu membentuk opini, sikap, dan bahkan konflik. Karena itu, puasa memiliki relevansi yang kuat dalam membangun etika bermedia sosial yang beradab dan bertanggung jawab.
Puasa melatih pengendalian diri. Nilai ini seharusnya tercermin dalam cara seseorang menggunakan media sosial. Saat berpuasa, seorang muslim diajarkan untuk menahan emosi, tidak mudah terpancing amarah, dan tidak gegabah dalam bertindak.
Prinsip ini sangat penting dalam bermedia sosial, di mana provokasi, ujaran kebencian, dan informasi yang belum terverifikasi mudah tersebar dan memicu kegaduhan.
Karena itu, Allah SWT ingatkan kita dalam Alquran: "Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu," (QS. Al-Hujurat 49).
Dalam Islam, menjaga lisan merupakan bagian penting dari ibadah puasa. Di media sosial, lisan menjelma menjadi tulisan, komentar, unggahan, dan reaksi. Menyebarkan hoaks, ghibah digital, fitnah, atau komentar kasar adalah bentuk pelanggaran etika yang dapat merusak nilai puasa.
Rasulullah SAW mengingatkan bahwa ucapan yang buruk dapat menghilangkan pahala puasa, meskipun seseorang tetap menahan lapar dan dahaga. “Berapa banyak orang yang berpuasa tidak mendapatkan pahalanya selain lapar, dan berapa banyak orang yang shalat malam tidak mendapatkan selain begadang” (HR. Ibnu Majah no. 1680).
Puasa juga mengajarkan tanggung jawab moral atas setiap perbuatan. Dalam bermedia sosial, setiap unggahan meninggalkan jejak dan berdampak pada orang lain. Karena itu, Ramadan mengajak kita untuk lebih berhati-hati: menimbang manfaat dan mudarat sebelum membagikan sesuatu. Prinsip tabayyun (klarifikasi) menjadi sangat relevan agar media sosial tidak menjadi sarana penyebaran keburukan.
Selain menahan diri dari hal negatif, puasa mendorong umat Islam untuk mengisi media sosial dengan kebaikan. Konten yang edukatif, inspiratif, dan menyejukkan hati adalah bentuk sedekah digital.
Di bulan Ramadan, media sosial dapat menjadi ladang pahala jika digunakan untuk menyebarkan nilai keislaman, mempererat silaturahmi, dan menguatkan semangat kebaikan. Etika bermedia sosial juga berkaitan dengan niat.
Puasa mengajarkan keikhlasan, sementara media sosial sering menggoda manusia untuk mencari pengakuan dan popularitas. Ramadan mengingatkan agar niat bermedia sosial diluruskan bukan untuk pamer ibadah, merendahkan orang lain, atau mencari sensasi, melainkan untuk berbagi manfaat dan kebenaran dengan cara yang santun.
Akhirnya, puasa dan etika bermedia sosial memiliki tujuan yang sama: membentuk pribadi yang bertakwa dan berakhlak mulia. Jika selama Ramadan media sosial kita menjadi lebih bersih dari ujaran kebencian dan lebih kaya akan pesan kebaikan, maka puasa telah memberi pengaruh nyata dalam kehidupan digital kita sehari-hari.
Semoga Ramadan menjadikan kita pengguna media sosial yang bijak, santun, dan bertanggung jawab—menjadikan setiap kata dan unggahan sebagai cermin akhlak dan jalan menuju ridha Allah SWT. Wallohu’lam bisshawab. (*)
Editor : Kimda Farida