LombokPost - “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Alquran) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. (QS. Al-Qadr: 1-5)
Alhamdulillah, saat ini kita sedang memasuki sepuluh malam terakhir Ramadan adalah fase paling istimewa dalam perjalanan spiritual seorang muslim. Di dalamnya terdapat Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan.
Malam penuh kemuliaan ini menjadi harapan besar setiap insan beriman, karena di dalamnya Allah SWT melimpahkan ampunan, rahmat, dan keberkahan yang tak terhingga. Namun, mencari Lailatul Qadar bukan hanya soal kesungguhan ibadah, melainkan juga tentang keseimbangan antara ikhtiar dan keikhlasan.
Ikhtiar dalam mencari Lailatul Qadar diwujudkan melalui peningkatan ibadah. Rasulullah SAW mencontohkan kesungguhan yang luar biasa pada sepuluh malam terakhir: menghidupkan malam dengan salat, memperbanyak doa, membaca Alquran, berzikir, dan beriktikaf.
Semua bentuk ibadah ini adalah upaya nyata untuk mendekatkan diri kepada Allah dan membuka pintu rahmat-Nya.
Namun, ikhtiar saja tidak cukup tanpa keikhlasan. Keikhlasan adalah ruh dari setiap amal. Ibadah yang dilakukan hanya demi mengejar keutamaan malam tertentu, tanpa menghadirkan hati yang tunduk dan berharap ridha Allah, berpotensi kehilangan maknanya.
Mencari Lailatul Qadar sejatinya adalah mencari kedekatan dengan Allah, bukan sekadar mengejar pahala yang besar.
Keikhlasan juga mengajarkan untuk tidak terjebak pada kepastian waktu. Lailatul Qadar dirahasiakan waktunya agar umat Islam terus bersungguh-sungguh dalam ibadah, tidak hanya pada satu malam tertentu.
Ketika seseorang beribadah dengan penuh keikhlasan, setiap malam di sepuluh hari terakhir menjadi berharga dan bernilai ibadah.
Dalam proses mencari Lailatul Qadar, muhasabah diri menjadi sangat penting. Sudahkah ibadah kita disertai kerendahan hati? Sudahkah doa-doa kita lahir dari kesadaran akan kelemahan diri dan ketergantungan total kepada Allah?
Malam kemuliaan ini lebih dekat kepada hati yang tulus, penuh harap, dan bersih dari kesombongan. Doa yang diajarkan Rasulullah SAW, “Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa‘fu ‘anni”, menjadi inti dari pencarian Lailatul Qadar.
Doa ini mencerminkan pengakuan akan dosa, harapan akan ampunan, dan kepercayaan penuh kepada kasih sayang Allah. Inilah wujud keikhlasan tertinggi dalam berdoa.Akhirnya, mencari Lailatul Qadar adalah perjalanan batin yang mendalam.
Ikhtiar mengajarkan kesungguhan, sementara keikhlasan mengajarkan ketulusan. Ketika keduanya berpadu, ibadah menjadi lebih bermakna dan hati semakin dekat kepada Allah.
Semoga kita termasuk hamba-hamba yang diberi kesempatan meraih kemuliaan Lailatul Qadar dan keluar dari Ramadan dengan jiwa yang bersih dan bertakwa. Wallohu’lam bisshawab. (*)
Editor : Kimda Farida