Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Geothermal Tak Gunakan Air Tanah Warga, Ahli Tegaskan Sistem Panas Bumi Aman dan Tertutup

Marthadi • Senin, 18 Mei 2026 | 14:37 WIB
Ahli geothermal Ali Ashat.
Ahli geothermal Ali Ashat.

LombokPost - Penolakan proyek geothermal kerap dipicu kekhawatiran soal ancaman terhadap sumber air warga. Namun, ahli geothermal Ali Ashat menegaskan anggapan tersebut tidak tepat. Ia memastikan fluida panas bumi yang dimanfaatkan dalam proyek geothermal berada jauh di bawah lapisan air tanah masyarakat dan tidak bercampur dengan sumber air sehari-hari karena sistemnya tertutup serta dilindungi lapisan baja dan semen berstandar tinggi.

Menurut Ali, fluida panas bumi berada pada kedalaman sangat jauh di bawah permukaan tanah dan terpisah dari lapisan air tanah dangkal maupun sumber air permukaan milik warga. Secara alami, terdapat lapisan batuan kedap yang memisahkan sistem geothermal dengan sumber air masyarakat.

“Air geothermal berada di kedalaman yang sangat dalam dan terpisah dari air tanah. Selain itu, sumur geothermal dilapisi casing baja dan semen berlapis sehingga tidak terjadi kebocoran maupun pencampuran dengan air yang digunakan masyarakat,” jelas Ali.

Ia menilai anggapan bahwa pengembangan geothermal dapat mengurangi cadangan air tanah tidak tepat apabila proyek dijalankan sesuai standar teknis dan lingkungan yang berlaku.

Baca Juga: Tekan Konsumsi BBM, Teknik Eco Riding Jadi Kunci Berkendara Hemat dan Ramah Lingkungan

“Secara teknis, sistem geothermal bersifat tertutup dan aman,” tegasnya.

Ali menjelaskan, proyek geothermal memang tetap membutuhkan air untuk kebutuhan operasional di permukaan, seperti kebutuhan pekerja, sanitasi, dan fasilitas pendukung lainnya. Namun kebutuhan tersebut berbeda dengan sistem utama panas bumi yang berada jauh di bawah permukaan tanah.

Menurutnya, geothermal menjadi salah satu energi terbarukan yang memiliki keunggulan karena mampu menghasilkan listrik secara stabil selama 24 jam penuh.

“Kalau bicara listrik, kita membutuhkan energi yang mampu menyuplai secara konsisten sepanjang hari. Geothermal memiliki karakter tersebut,” ujarnya.

Meski demikian, Ali mengingatkan bahwa pengembangan geothermal harus memenuhi tiga aspek utama, yakni layak secara teknis, ekonomi, serta dapat diterima secara sosial dan lingkungan. Ketiga aspek tersebut harus berjalan seimbang agar proyek benar-benar memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat.

Baca Juga: Muhsinin Berangkatkan Jamaah Haji Khusus Perdana dengan Fasilitas VIP dan Direct Flight

“Kalau secara teknis dan ekonomi sudah layak, tetap harus dipastikan dapat diterima masyarakat dan tidak merusak lingkungan,” tambahnya.

Sementara itu, General Manager PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Nusa Tenggara (UIP Nusra) Rizki Aftarianto mengatakan pengembangan geothermal di Flores dilakukan dengan mengedepankan prinsip kehati-hatian, transparansi, serta kepatuhan terhadap standar teknis dan lingkungan.

“PLN memahami bahwa masyarakat membutuhkan informasi yang utuh dan benar terkait pengembangan geothermal. Karena itu, kami terus membuka ruang dialog dan menghadirkan penjelasan berbasis kajian ilmiah agar masyarakat memperoleh pemahaman yang tepat,” ujarnya.

Ia menambahkan, pengembangan energi panas bumi menjadi bagian penting dalam mendukung transisi energi bersih sekaligus memperkuat ketahanan energi di wilayah Nusa Tenggara dan Indonesia secara berkelanjutan.

Editor : Marthadi
#Proyek Panas Bumi #geothermal Flores #air tanah masyarakat #energi terbarukan Indonesia #PLN UIP Nusra