LombokPost – PT PLN (Persero) melalui Unit Induk Pembangunan Nusa Tenggara (UIP Nusra) memamerkan perkembangan tiga proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) di Nusa Tenggara Timur (NTT) dalam Indonesia International Geothermal Convention & Exhibition (IIGCE) 2026 di Jakarta, 19–21 Agustus 2026.
Tiga proyek yang ditampilkan yakni PLTP Mataloko FTP-2 berkapasitas 2x10 Megawatt (MW) di Kabupaten Ngada, PLTP Ulumbu Unit 5–6 berkapasitas 2x20 MW di Kabupaten Manggarai, dan PLTP Atadei berkapasitas 2x5 MW di Kabupaten Lembata.
Selain perkembangan proyek, PLN UIP Nusra turut memperkenalkan pendekatan sosial dan adat serta program pemberdayaan masyarakat yang dijalankan di sekitar wilayah pengembangan panas bumi.
Executive Vice President Manajemen Panas Bumi PT PLN (Persero) John Y.S. Rembet mengatakan, PLN memiliki potensi pengembangan panas bumi mencapai 3,7 Gigawatt (GW). Potensi tersebut terdiri dari 573 MW kapasitas terpasang PLN dan sekitar 3,2 GW potensi pengembangan melalui kemitraan.
Baca Juga: Unram Hilirisasi Kepiting Bakau Jadi Produk Krispi
“Potensi panas bumi Indonesia sangat besar. PLN terus mendorong pengembangannya melalui pembangunan proyek maupun kolaborasi dengan berbagai pihak,” kata John.
Menurut dia, pengembangan Mataloko, Ulumbu, dan Atadei menjadi bagian dari upaya PLN memperluas pemanfaatan energi panas bumi sekaligus memperkuat peran NTT dalam pengembangan energi terbarukan nasional.
General Manager PLN UIP Nusa Tenggara RDW Manurung menjelaskan, progres pembangunan ketiga proyek saat ini berada pada tahapan berbeda.
PLTP Mataloko FTP-2 telah menyelesaikan infrastruktur pengeboran hingga 100 persen dan memasuki tahap persiapan drilling campaign. Sementara PLTP Ulumbu Unit 5–6 berada pada tahap penyiapan infrastruktur pengeboran.
Baca Juga: Gandeng Kader PKK Bonjeruk, Poltekkes Mataram Kembangkan Herbal Berbasis Wisata
Adapun PLTP Atadei masih dalam proses pengadaan lahan dan persiapan pengeboran eksplorasi.
Manurung menegaskan, pengembangan panas bumi tidak hanya berfokus pada pembangunan infrastruktur pembangkit. Aspek lingkungan dan sosial, termasuk keterlibatan masyarakat serta penghormatan terhadap nilai-nilai adat, menjadi bagian dari setiap tahapan proyek.
Pendekatan tersebut dilakukan melalui sosialisasi, pra-Free, Prior and Informed Consent (pra-FPIC), FPIC, dialog di rumah adat, hingga pelibatan tokoh masyarakat dan pemangku adat.
“Pengembangan panas bumi bukan hanya mengenai pembangunan infrastruktur. Kami memastikan setiap tahapan juga memperhatikan aspek lingkungan, sosial, serta keterlibatan masyarakat sehingga pembangunan dapat memberikan manfaat bagi daerah tempat energi tersebut dikembangkan,” ujarnya.
Baca Juga: MPW PKS NTB Minta Nurul Adha Benahi Birokrasi Lobar, Hindari Kepemimpinan Otoriter Namun Tak Lembek
PLN juga menjalankan sejumlah program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) di sekitar wilayah pengembangan. Program tersebut mencakup sektor pertanian dan hortikultura, penyediaan air bersih, pendidikan, serta penguatan ekonomi masyarakat.
Khusus di wilayah Ulumbu, pendekatan terhadap masyarakat adat menjadi salah satu aspek penting dalam pengembangan proyek. PLN membuka ruang dialog melalui pertemuan masyarakat dan rumah adat untuk menyampaikan rencana pembangunan sekaligus menyerap aspirasi warga.
“Pembangunan harus tumbuh bersama masyarakat. Karena itu, pembangunan fisik, penghormatan terhadap nilai adat, keterlibatan masyarakat, dan program pemberdayaan kami jalankan sebagai satu kesatuan dalam pengembangan panas bumi di NTT,” kata Manurung.
Melalui keikutsertaan dalam IIGCE 2026, PLN UIP Nusra menegaskan pengembangan PLTP Mataloko, Ulumbu, dan Atadei tidak hanya diarahkan untuk menambah pasokan energi bersih, tetapi juga memberikan nilai tambah bagi masyarakat dan daerah serta mendukung percepatan transisi energi nasional.
Editor : Marthadi