LombokPost - Rivalitas Liverpool vs Manchester United selalu menjadi magnet besar di Liga Inggris.
Dua klub paling bersejarah ini mungkin kini berjalan di jalur berbeda, tapi setiap kali nama Liverpool dan Manchester United disandingkan, segalanya bisa berubah.
Perbedaan nasib antara Liverpool dan Manchester United kian terlihat jelas dalam beberapa musim terakhir.
Namun, entah bagaimana, laga melawan Liverpool sering kali menjadi momen kebangkitan bagi Manchester United.
Bahkan pelatih Ruben Amorim, yang kini berada di bawah tekanan, mengakui hasil imbang 2-2 di Anfield awal tahun ini sebagai salah satu performa terbaik timnya.
Menariknya, pendahulunya di Old Trafford juga punya rekor lumayan baik melawan Liverpool. Dari enam pertemuan, hanya dua yang berakhir dengan kekalahan.
Bahkan, kemenangan pertama Erik ten Hag bersama United terjadi saat melawan Liverpool, termasuk kemenangan dramatis di Piala FA Maret 2024 yang sempat menggagalkan impian Jurgen Klopp meraih gelar perpisahan yang sempurna.
Meski hampir satu dekade tanpa kemenangan di Anfield, Manchester United seakan selalu punya energi ekstra setiap kali berjumpa Liverpool.
Bagi para pendukung Liverpool, hal itu sekaligus menimbulkan ironi: mengapa lawan terbesarnya selalu tampil begitu bersemangat justru saat menghadapi mereka?
Liverpool dalam Tekanan, United Jadi Lawan Uji Mental
Namun menjelang duel Liverpool vs Manchester United kali ini, justru Liverpool yang berada di posisi rapuh.
Tiga kekalahan beruntun cukup untuk membuat pelatih lain ketar-ketir, tapi Arne Slot tampil santai saat konferensi pers Jumat lalu.
Slot tidak menutup-nutupi masalah timnya. Ia mengakui bahwa lini pertahanan Liverpool kini terlalu mudah ditembus, terutama lewat bola mati dan serangan balik cepat. “Kami sudah kebobolan sembilan gol, empat di antaranya dari set-piece,” ujar Slot tenang.
Pelatih asal Belanda itu telah menghabiskan dua minggu untuk menganalisis penurunan performa Liverpool, namun tetap menunjukkan aura tenang, seolah yakin badai ini akan segera berlalu.
Langkah pertama untuk bangkit tentu saja dengan memastikan mesin gol mereka kembali panas. Mohamed Salah, yang dikenal selalu garang saat menghadapi Manchester United, jadi tumpuan utama.
Florian Wirtz juga disebut sebagai elemen penting untuk menghidupkan kreativitas lini tengah Liverpool.
Dan kini, kembalinya Alexander Isak dalam kondisi bugar memberi harapan baru. Proyek besar membangun ulang skuad Liverpool yang dimulai sejak Mei lalu seolah akan diuji pada malam besar ini.
Salah dan Gakpo, Ancaman Ganda untuk Manchester United
Liverpool vs Manchester United selalu menghadirkan drama besar, termasuk kemenangan bersejarah 7-0 di Anfield tahun 2023, saat empat penyerang berbeda mencetak gol.
Salah satu di antaranya adalah Cody Gakpo, pemain yang nyaris bergabung dengan Manchester United sebelum akhirnya memilih Merseyside.
Kini, Arne Slot berharap kombinasi Salah–Gakpo bisa kembali meledak. “Kami harus menemukan keseimbangan antara agresivitas Klopp dan kontrol di lini tengah,” ujar Slot.
Pernyataan itu mencerminkan misi besarnya: membuat Liverpool lebih stabil tanpa kehilangan daya serang yang eksplosif.
Sementara itu, Manchester United datang dengan rekor tandang yang buruk, gagal menang sejak Maret dan kebobolan tiga gol di dua laga tandang terakhir.
Secara teori, ini adalah kesempatan emas bagi Liverpool. Namun, rivalitas abadi ini sering kali melahirkan hasil yang tak terduga.
Amorim Butuh Kemenangan, Slot Butuh Keyakinan
Di kubu seberang, Ruben Amorim tahu dirinya sedang diawasi. Dalam konferensi pers, pelatih asal Portugal itu bahkan menyinggung dukungan Sir Jim Ratcliffe yang ia anggap “tak sepenuhnya bisa dipercaya”.
Ia juga tak yakin masih akan melatih Manchester United ketika kedua tim bertemu lagi pada Mei mendatang.
Berbeda dengan Arne Slot, yang tampak lebih tenang. Pelatih Liverpool itu yakin timnya akan kembali bersinar dan menutup musim dengan gaya khas mereka, mengejar gelar juara ke-21 dalam sejarah klub.
“Cepat atau lambat, itu akan terjadi,” kata Slot optimis. Dan memang, dalam konteks Liverpool vs Manchester United, hanya satu klub yang kini benar-benar berjalan dengan wibawa kekuatan super modern.
Dan itu bukan Manchester United.
Pertandingan Liverpool vs Manchester United bukan sekadar adu strategi dua pelatih muda Eropa, tapi juga simbol kebangkitan dan kehormatan.
Di satu sisi, Liverpool mencari jalan keluar dari tekanan. Di sisi lain, Manchester United berusaha membuktikan bahwa mereka masih bisa menandingi musuh bebuyutannya.
Apapun hasilnya di Anfield nanti, satu hal pasti: rivalitas Liverpool vs Manchester United tak akan pernah kehilangan daya magisnya. (***)
Editor : Alfian Yusni