LombokPost - Massimo Ambrosini mengingatkan, AC Milan belum menunjukkan bahwa mereka memiliki serangkaian opsi yang tepat dalam fase ofensif.
Dibandingkan dengan tim lain, mantan pemain AC Milan itu menyebut klub yang pernah dibelanya memiliki lebih sedikit pilihan, lebih sedikit solusi.
"Anda juga bisa menurunkan 6000 penyerang, tetapi jika anda tidak memiliki ide dan solusi untuk membuat mereka bermain, mereka tidak akan banyak mencetak gol," tegas Massimo Ambrosini.
Baca Juga: 2 Alasan Massimiliano Allegri Mungkin Saja Tinggalkan AC Milan, Bakal Calon Penggantinya Bermunculan
Ingat, gol terakhir dari seorang penyerang AC Milan adalah gol Rafael Leao pada 1 Maret lalu.
AC Milan perlu menyelesaikan musim dengan baik dan mencetak gol-gol penentu untuk mencapai Liga Champions.
Terkait itu, Desailly mantan pemain AC Milan lainnya mengingatkan untuk tidak mengkritik Rafael Leao terus-menerus.
Baca Juga: Bongkar Pasang Puzzle AC Milan untuk Lini Tengah
"Anda tidak bisa mengkritiknya, karena pada hari Anda melakukannya, dia akan menciptakan keajaiban di lapangan. Dan Anda akan terdiam, tidak tahu harus berkata apa lagi," ujarnya mengingatkan Rafael Leao punya peran penting dalam pencapaian AC Milan sejauh ini.
Dia tak menampik bahwa Rafael Leao kurang konsisten, dan dia bukan pemimpin yang mampu memimpin sepanjang musim seperti Lionel Messi atau Neymar.
Menurut Desailly, Rafael Leao tidak memiliki konsistensi itu. Dia pemain penting bagi tim, tetapi dia tidak akan pernah menjadi pemain kunci sepanjang musim.
Baca Juga: Takdir AC Milan Ada di Tangannya Sendiri
"Saya tidak bisa mengkritiknya, karena dia menghasilkan banyak uang, bermain untuk AC Milan dan tim nasional Portugal. Tapi saya pikir dia percaya bahwa dirinya adalah segalanya," ucapnya.
"Dia belum siap secara mental untuk belajar di bidang yang dapat meningkatkan kemampuan fisiknya, karena berpotensi dia mungkin tidak mampu memberikan lebih banyak secara fisik. Mungkin dia bisa mempertimbangkan untuk menyesuaikan pola makan, latihan, atau aspek lain untuk mencapai konsistensi tersebut," ujar mantan pemain AC Milan berkebangsaan Perancis itu.
"Dia agak bermasalah dalam sebuah sistem karena dia tidak mundur ke belakang. Dia maju ke depan, tetapi begitu aksi selesai, dia berhenti. Itu berarti dia tidak memiliki stamina untuk kembali ke posisinya. Jadi, dibutuhkan pendekatan fisik dan mental yang pada akhirnya dapat membawanya ke level di mana dia bisa memenangkan Ballon d'Or," Desailly mengingatkan. (yuk/r6)
Editor : Prihadi Zoldic