LombokPost - Penggawa Timnas Prancis, Kylian Mbappe, mendadak jadi pusat perhatian global bukan karena aksi magisnya di lapangan hijau, melainkan akibat skandal rasisme Piala Dunia 2026 yang begitu menyengat.
Jagat maya gempar setelah seorang politikus senior, Senator Paraguay Celeste Amarilla, melontarkan kalimat yang sangat tidak pantas.
Isu rasisme Piala Dunia 2026 ini meledak hebat tepat setelah Prancis menyingkirkan Paraguay dengan skor tipis 1-0 di babak 16 besar melalui eksekusi penalti dramatis sang kapten.
Amarilla memicu gelombang kecaman setelah secara terbuka menyebut Kylian Mbappe sebagai "seorang Kamerun terjajah yang mati-matian ingin diakui sebagai orang Prancis" di akun media sosial pribadinya.
Tidak berhenti sampai di situ, sang senator juga mengejek edukasi, latar belakang, hingga fisik penyerang Real Madrid tersebut. Serangan verbal sarat kebencian ini langsung memantik api kemarahan dari kubu Les Bleus yang tidak terima ikon sepak bola mereka dilecehkan secara rasial di panggung sebesar Piala Dunia 2026.
Mendapat perlakuan diskriminatif, Kylian Mbappe langsung melancarkan serangan balik yang menohok. Lewat akun X resminya, pemain bernomor punggung 10 itu menyebut sang politikus sebagai sosok yang inkompeten dan memalukan negara.
Mbappe menegaskan bahwa Celeste Amarilla adalah seorang perempuan hina yang tidak layak menduduki jabatannya karena tindakan ceroboh bermuatan rasisme ini justru merusak citra luar biasa yang sudah dibangun oleh para pemain Timnas Paraguay yang telah bertarung habis-habisan di lapangan.
Baca Juga: Kylian Mbappé Catat 62 Gol, Top Scorer Eropa 2025, Dekati Rekor Messi & Ronaldo!
Melihat kapten mereka diserang, Federasi Sepak Bola Prancis (FFF) tidak tinggal diam menghadapi riak rasisme Piala Dunia 2026 ini. FFF secara resmi mengutuk keras pernyataan Amarilla yang dinilai mengerikan dan sama sekali tidak bisa ditoleransi.
FFF mengonfirmasi bahwa mereka tengah menyusun berkas bersama tim hukum untuk menyeret kasus ujaran kebencian ini ke meja hijau melalui jaksa penuntut umum.
Dukungan moral juga mengalir deras dari Pemerintah Prancis, termasuk dari Menteri Olahraga Marina Ferrari yang menyebut serangan terhadap Kylian Mbappe merupakan penghinaan terhadap nilai luhur kebebasan dan kesetaraan.
Di sisi lain, situasi politik di internal Paraguay langsung memanas akibat ulah warganya sendiri. Sadar bahwa isu rasisme Piala Dunia 2026 bisa merusak hubungan diplomatik kedua negara, Pemerintah Paraguay buru-buru merilis klarifikasi resmi.
Mereka menegaskan bahwa ocehan Celeste Amarilla murni merupakan opini pribadi dan sama sekali tidak mencerminkan pandangan institusi negara maupun rakyat Paraguay yang menjunjung tinggi sportivitas di luar maupun di dalam lapangan.
Melihat eskalasi kasus yang makin menyudutkan dirinya, Senator Paraguay Celeste Amarilla akhirnya menghapus unggahan rasial tersebut, namun ia justru berbalik menuntut permintaan maaf terbuka dari Kylian Mbappe atas tuduhan kekerasan berbasis gender.
Terlepas dari pembelaan sang senator, kasus ini telanjur mencoreng wajah turnamen dan menjadi coretan hitam terbesar dalam sejarah pelaksanaan Piala Dunia 2026.
Dunia kini mendesak FIFA untuk bersikap tegas agar perang melawan rasisme di sepak bola tidak sekadar menjadi jargon usang di atas kertas, sementara Prancis harus segera mengalihkan fokus karena mereka sudah dinanti Maroko di babak perempat final.
Editor : Kimda Farida