LombokPost - Jagat maya sempat dihebohkan dengan beredarnya video menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di MIN Tolobali, Kota Bima.
Video itu memperlihatkan seekor ulat bergerak di atas daging. Video itu diunggah salah satu wali murid di Facebook pada Jumat (3/10). Namun setelah viral, unggahan video di take down.
Ketua Satgas MBG NTB Ahsanul Khalik menegaskan, pihaknya telah menurunkan tim untuk melakukan klarifikasi dan investigasi lapangan bersama Koordinator Wilayah BGN Kota Bima, petugas SPPI, dan mitra penyelenggara dapur MBG.
“Hasil penelusuran kami memastikan kejadian itu benar adanya, namun hanya ditemukan pada satu wadah makanan siswa. Dugaan kuat, ulat tersebut berasal dari sayuran segar (selada), bukan dari daging,” kata Ahsanul Khalik dihubungi Lombok Post, Minggu (5/10).
Menurut hasil pemeriksaan bersama tim SPPG dan ahli gizi, daging yang digunakan dalam menu MBG diterima dalam kondisi segar dan disimpan di freezer bersuhu 5 hingga -15 derajat Celcius.
Menurut Khalik, pada suhu itu, ulat tidak bisa hidup. "Daging pun telah melalui dua kali proses pemasakan, sehingga mustahil masih ada ulat yang bertahan,” jelasnya pria yang akrab disapa AKA ini.
Tim menemukan, setelah perebusan, daging sempat disimpan di gudang basah sebelum dimasak ulang tim pengolahan. Sedangkan sayur selada yang digunakan hanya dicuci tanpa dimasak, sehingga besar kemungkinan ulat berasal dari sana.
Satgas MBG bersama petugas lapangan telah menemui wali murid yang mengunggah video tersebut. Dalam pertemuan itu, pihak penyelenggara dapur MBG menyampaikan permohonan maaf dan disepakati untuk menurunkan (take down) konten video setelah penjelasan dan komitmen perbaikan diberikan.
“Kami menegaskan, kebersihan dan keamanan pangan adalah hal yang tidak bisa ditawar," tegas AKAm
Kasus ini menjadi peringatan keras agar seluruh dapur SPPG di NTB memperketat standar kebersihan dan pemeriksaan bahan makanan sebelum dimasak.
Dia juga menyebut, satgas telah berkoordinasi dengan Penjabat Sekda Kota Bima, serta perangkat daerah terkait seperti Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan, Dinas Ketahanan Pangan, dan Kemenag Kota Bima, untuk memperkuat pengawasan lapangan.
Tak hanya itu, Badan Gizi Nasional (BGN) Regional NTB telah menjatuhkan teguran keras kepada mitra pemilik SPPG, SPPI sebagai kepala dapur, dan ahli gizi yang bertanggung jawab di dapur tersebut.
“Setiap bentuk kelalaian akan dicatat serius. Jika tidak ada perbaikan, operasional bisa dihentikan,” tegasnya lagi.
Ahsanul Khalik juga mengingatkan pihak sekolah agar segera mendistribusikan makanan setelah diterima dari dapur. “Menunda penyajian berjam-jam bisa meningkatkan risiko kerusakan makanan. Koordinasi antara dapur dan sekolah harus lebih baik,” ujarnya.
AKA mengapresiasi masyarakat dan orang tua siswa yang peduli terhadap mutu makanan MBG. “Pengawasan publik justru penting, karena bersama-sama kita memastikan anak-anak menerima makanan bergizi dan aman, sesuai arahan Bapak Presiden,” pungkasnya.
Editor : Jelo Sangaji