LombokPost – Rencana pembangunan Jembatan Lewa Mori di Kabupaten Bima yang dikabarkan menelan anggaran triliunan rupiah menuai sorotan tajam dari Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) NTB Harwoto.
Anggota Fraksi Partai Golkar yang mewakili Dapil VI (Kabupaten Bima, Kota Bima, dan Dompu), secara lugas menilai proyek tersebut tidak terlalu mendesak untuk kebutuhan riil masyarakat Bima.
Harwoto menekankan, fokus pembangunan infrastruktur seharusnya berorientasi pada proyek yang memberikan dampak ekonomi langsung dan peningkatan aktivitas masyarakat, bukan semata-mata proyek berskala besar.
Menurut Harwoto, anggaran besar yang dialokasikan untuk Jembatan Lewa Mori sebaiknya direalokasikan untuk proyek yang memiliki urgensi lebih tinggi dan manfaat yang lebih luas.
"Proyek yang dikabarkan menelan anggaran hingga triliunan rupiah itu sebaiknya dialihkan untuk pembangunan dua jalur jalan dari Bandara Sultan Muhammad Salahuddin hingga wilayah Kabupaten Dompu," tegas Harwoto, Jumat (31/10).
Menurutnya, memperlebar dan memperbaiki jalan lama merupakan langkah yang jauh lebih efisien.
Selain menghemat anggaran, proyek pelebaran jalan dinilai akan berdampak langsung pada peningkatan aktivitas ekonomi masyarakat di sepanjang jalur tersebut.
Kritik Harwoto tidak hanya berlandaskan efisiensi anggaran, tetapi juga didasari kepedulian terhadap keberlangsungan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal.
Jika Jembatan Lewa Mori dibangun sebagai jalur pintas baru, Harwoto khawatir hal itu akan memutus akses pelanggan ke pedagang di jalan lama.
"Kalau pembangunan Jembatan Lewa Mori diteruskan, justru bisa berdampak pada usaha-usaha kecil di sepanjang jalan lama seperti penjual bandeng dan pedagang kaki lima yang berpotensi kehilangan pelanggan," ungkapnya
Harwoto menegaskan, kebijakan pembangunan seharusnya berlandaskan kebutuhan nyata, bukan hanya proyek yang tampak megah.
"Pemerintah perlu melihat prioritas. Jalan utama dari bandara ke kabupaten sudah padat, cukup dilebarkan dan diperbaiki. Itu jauh lebih bermanfaat dibanding membangun jembatan baru yang belum tentu menjadi kebutuhan mendesak," tambahnya.
Rencana pembangunan Jembatan Lewa Mori diketahui bertujuan menghubungkan kawasan barat dan timur Kabupaten Bima untuk memperlancar arus transportasi dan distribusi barang.
Namun, hingga kini, proyek tersebut masih berada dalam tahap perencanaan dan belum mengantongi persetujuan final terkait anggaran dari pemerintah pusat maupun provinsi.
Menyikapi hal ini, Harwoto berharap pemerintah daerah dan pihak terkait dapat melakukan kajian ulang secara komprehensif dan jujur. Tujuannya adalah memastikan bahwa setiap proyek pembangunan benar-benar memberikan dampak positif bagi masyarakat luas, terutama masyarakat bawah.
"Kita mendukung pembangunan, tapi harus sesuai skala prioritas dan kebutuhan masyarakat bawah,” tutup Harwoto sembari menekan perlunya orientasi kebijakan yang pro-rakyat dalam setiap langkah pembangunan infrastruktur di NTB.
Editor : Pujo Nugroho