LombokPost-Remaja 18 tahun asal Kecamatan Wera, Bima menghilang di Gunung Sangeang Api. Pencarian di hari kesembilan oleh keluarganya dan kelompok pencinta alam belum membuahkan hasil.
Pencarian Kifen tak seheboh pendaki wanita Warga Negara Asing (WNA) asal Brazil, Juliana Marins, 27 tahun, yang meninggal dunia setelah jatuh ke jurang sedalam sekitar 600 meter di area Danau Segara Anak, Gunung Rinjani, Sabtu (21/6). Bahkan tim SAR telah menghentikan pencarian di hari ketiga hilangnya Kifen.
Diketahui, Kefin berangkat bersama tiga rekannya Meri, Aldin, dan Kafun menuju puncak Gunung Sangeang Api, Sabtu (13/12). Mereka hendak berburu kambing liar.
Setibanya di lokasi sekitar pukul 19:00 Wita, mereka beristirahat dan tidur di goa. Keesokan harinya, Aldin dan Kifen mendaki duluan menuju puncak. Sementara Meri dan Kafun memasak dulu dan menyiapkan bekal menuju puncak.
Setelah selesai memasak sekitar Pukul 08:00 Wita, mereka berdua melanjutkan perjalanan mengikuti Aldin dan Kifen. Dalam perjalanan mereka bertemu dengan Aldin yang turun kembali.
Beberapa jam kemudian mereka mulai gelisah karena Kifen tidak muncul. Terlebih lagi, mereka sudah melewati batas waktu perjanjian untuk bertemu di titik yang telah disepakati.
Selanjutnya siang itu, mereka mulai melakukan pencarian mandiri. Beberapa kali naik sampai ke puncak dan turun sampai ke lokasi awal bertemu dengan Aldin. Di situ, mereka menunggu hingga pukul 08.00 Wita, Senin (15/12). Namun Kifen tak kunjung kembali.
Rekan Kifen pun melaporkan ke warga hingga Kantor SAR Mataram. Namun setelah beberapa hari pencarian dan tidak membuahkan hasil, tim SAR secara resmi menutup operasi SAR pencarian Kifen, Rabu (17/12).
Koordinator Pos SAR Bima Muhamad Darwis menerangkan, hingga Rabu sore pukul 16.00 Wita, tim SAR gabungan melaporkan bahwa hasil pencarian terhadap warga Dusun Doroma, Desa Sangeang, masih nihil. Berdasarkan hasil evaluasi mendalam dan musyawarah antara tim SAR gabungan dengan pihak keluarga korban, diperoleh keputusan untuk menghentikan pencarian.
“Pihak keluarga menyatakan telah mengikhlaskan kondisi korban dan meminta agar pencarian dihentikan. Atas permintaan tersebut, operasi SAR dinyatakan ditutup,” kata Darwis.
Pihak keluarga sudah mengikhlaskan jika korban tidak ditemukan. Namun, Koordinator Pos SAR Bima menekankan jik di kemudian hari ditemukan tanda-tanda atau bukti baru mengenai keberadaan korban, maka Operasi SAR dapat dibuka kembali.
Operasi SAR di medan berat Gunung Sangeang Api ini telah mengerahkan berbagai personel dan peralatan. Tim SAR gabungan yang terlibat terdiri dari Pos SAR Bima, Polsek Wera dan Bhabinkamtibmas Sangeang, Babinsa Sangeang, Polairud Bima, Orari, TSBK Bima, Madapala, Komunitas Pecinta Gunung, Kades Sangeang, nelayan, masyarakat setempat, keluarga korban, dan pihak terkait lainnya.
Dalam proses penyisiran, tim menggunakan alut (alat utama) seperti RIB 09 Mataram, kendaraan Truk Personil, Rescue D-Max, Komunikasi, serta peralatan Mountaineering lengkap juga dikerahkan. Mengingat, medan pencarian berada di area puncak gunung api aktif.
Meski demikian, pencarian tetap dilanjutkan keluarganya dan tim dari pencinta alam (Syimpel) Universitas Muhamadiyah Bima, Sabtu (21/12). Namun hingga pagi ini, korban Kifen tak kunjung ditemukan.
Editor : Jelo Sangaji