LombokPost-Yayasan Rindu Younging City milik anak anggota DPRD NTB Yasin mengelola tujuh dapur makanan bergizi gratis (MBG). Lokasi dapurnya tersebar di sejumlah wilayah Kabupaten Bima.
Anggota DPRD NTB Yasin membenarkan yayasan milik anaknya menaungi tujuh dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) yang tersebar di sejumlah wilayah Kabupaten Bima. Namun, dia membantah seluruh dapur tersebut dikelola langsung oleh anaknya.
Menurut Yasin, yayasan yang dimiliki anaknya menjadi payung bagi sejumlah mitra yang mengelola dapur MBG di beberapa kecamatan, seperti Bolo, Lambitu, Lambu, Parado, Woha, Sape, Sanggar, Donggo, dan Ambalawi.
"Anak saya cuma kelola satu dapur, yang di Donggo. Kalau dapur yang lain dikelola orang lain, tapi menggunakan yayasan anak saya," kata Yasin saat dihubungi, Senin (8/6).
Baca Juga: Wali Kota Bima Perintahkan Dinas PUPR Kaji Aktivitas Galian C di Sambinae
Yasin menegaskan anaknya tidak memonopoli program MBG di Kabupaten Bima. Menurut dia, pada awal pelaksanaan program pada 2025, jumlah yayasan yang bermitra dengan Badan Gizi Nasional (BGN) masih terbatas, sehingga pihaknya berinisiatif membantu mendukung program tersebut.
"Dulu minim sekali yayasan yang mau gabung dengan BGN. Karena minimnya peminat, kami mendukung program presiden dengan mengajukan titik-titik dapur," ujarnya.
Dia juga membantah kabar yang menyebut tujuh dapur tersebut seluruhnya dikelola oleh anaknya. "Enam dapur itu dikelola orang lain, bukan kita semua. Orang-orang yang punya anggaran yang kelola," katanya.
Baca Juga: Pabrik Garam Hibah KKP di Bima Mandek
Menurut Yasin, anaknya hanya membantu para mitra melalui yayasan tersebut agar proses pengajuan ke BGN dapat berjalan dan kebutuhan penerima manfaat dapat dipenuhi. "Jadi bukan milik anak saya semua tujuh dapur, tetapi berada di bawah naungan yayasan," jelasnya.
Yasin mengungkapkan tidak semua dapur yang berada di bawah naungan yayasan tersebut masih aktif. Beberapa dapur disebut telah berhenti beroperasi akibat persoalan keuangan dan adanya temuan terkait kualitas makanan. "Sudah ditutup sebagian dan beberapa tidak jalan lagi karena faktor keuangan. Mungkin karena permasalahan BGN," ungkapnya.
Dia mencontohkan dapur MBG di Desa Sai, Kecamatan Soromandi, yang sudah tidak lagi beroperasi setelah ditemukan menu makanan yang dinilai tidak layak. "Diberhentikan yang di Sai karena faktor telur tidak matang," katanya.
Yasin kembali menegaskan anaknya hanya membantu pengusaha atau mitra yang ingin membangun dapur MBG di Kabupaten Bima. Menurut dia, saat itu program MBG belum terserap maksimal karena sejumlah kendala dalam proses pengajuan.
"Karena program MBG di Kabupaten Bima itu tidak terserap, mungkin karena kendala pengajuan di portal. Waktu itu anak saya coba bantu mengajukan lewat portal BGN," ujarnya.
Dia juga tidak menampik adanya sejumlah mitra yang bergabung di bawah yayasan anaknya. Meski demikian, pengelolaan masing-masing dapur disebut tidak berada di bawah kendali anaknya.
"Kita tidak munafik, memang yayasan anak saya punya beberapa mitra yang mengelola dapur MBG. Tetapi pengelolaannya bukan di bawah anak saya seperti yang dituduhkan," bebernya.
Yasin juga menegaskan dirinya sama sekali tidak terlibat dalam pengelolaan dapur MBG tersebut. "Nggak ada, nggak ada dapur MBG saya. Anak saya itu saja," tandasnya.
Editor : Jelo Sangaji