Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Ayah Alfa Ungkap Dugaan Kelalaian RSUD Bima: Anak Saya Kejang-kejang karena Oksigen Habis di Tengah Perjalanan

Jelo Sangaji • Senin, 13 Juli 2026 | 13:25 WIB
Pelayan RSUD Bima disorot usai meninggalnya pasien M Alfa Firdaus karena diduga oksigen habis dalam perjalanan menuju RSUP NTB.
Pelayan RSUD Bima disorot usai meninggalnya pasien M Alfa Firdaus karena diduga oksigen habis dalam perjalanan menuju RSUP NTB.

 

LombokPost-Keluarga pasien yang diduga menganiaya seorang perawat RSUD Bima berinisial AR akhirnya angkat bicara. 

Pria berinisial MN warga Desa Kala, Kecamatan Donggo, Kabupaten Bima, mengaku emosinya memuncak setelah anaknya yang sedang dirujuk ke RSUP NTB mengalami kejang-kejang di tengah perjalanan. Menurut pengakuannya, tabung oksigen di ambulans telah habis.

MN menuturkan, peristiwa itu bermula ketika putranya, M Alfa Firdaus, mengalami kecelakaan di Kecamatan Donggo pada Kamis (9/7). Korban sempat mendapatkan perawatan di RSUD Bima sebelum dirujuk ke RSUP NTB di Mataram.

Baca Juga: Kemendagri Periksa Sejumlah Pejabat, Dalami Pelantikan Keluarga Wali Kota Bima Jadi Pejabat

Dalam perjalanan menuju Mataram, tepat sebelum memasuki Pelabuhan Poto Tano, Kabupaten Sumbawa Barat (KSB), kondisi Alfa disebut tiba-tiba memburuk.

"Anak saya kejang-kejang karena habis persediaan oksigen sebelum masuk ke Pelabuhan Poto Tano, kira-kira 10 kilometer dari pelabuhan," ujar MN dihubungi Lombok Post, Minggu (12/7).

MN mengaku sempat mempertanyakan kondisi tabung oksigen kepada perawat pendamping berinisial AR. Menurutnya, jawaban yang diterima justru membuat dirinya semakin emosi.

"Jawabannya bikin kami sakit hati, apalagi anak saya dalam kondisi kejang-kejang," katanya.

Baca Juga: Wali Kota Bima Janji Perbaiki Dua Rumah Lapuk di Oi Mbo, Begini Skemanya

Dia mengklaim jarum penunjuk tabung oksigen sudah berada di angka nol dan ambulans tidak dilengkapi tabung oksigen cadangan.

"Padahal jarumnya oksigen sudah menunjukkan angka nol. Dan tidak ada cadangannya," ungkap dia.

MN menduga kondisi tersebut ikut memengaruhi keadaan anaknya. Meski demikian, dia tetap melanjutkan perjalanan hingga menyeberang melalui Pelabuhan Poto Tano menuju Pelabuhan Kayangan, Lombok Timur. "Di atas kapal sudah habis oksigennya," kata MN.

MN mengakui telah memukul perawat AR satu kali. Menurutnya, tindakan itu dipicu emosi setelah mendengar respons perawat saat dirinya mempertanyakan pelayanan yang diberikan. "Saya emosi karena jawabannya kurang enak didengar. Saya pukul sekali," akunya.

Dia juga mengkritik pelayanan RSUD Bima dan mempertanyakan penggunaan ambulans yang disebutnya bukan milik rumah sakit.

"Ambulans yang dipakai mobil yayasan, bukan ambulans RSUD Bima. Ini mobil Yayasan Bhakti Sosial," sebutnya.

Baca Juga: Pemkot Bima Usulkan Perbaikan Jalan Sonco Tengge-Kumbe Lewat Dana Inpres 

MN menegaskan dirinya akan menyampaikan protes secara resmi kepada pihak rumah sakit agar kejadian serupa tidak kembali terjadi.

"Saya akan protes. Cukup saya yang alami kejadian ini. Jangan sampai ada pasien lain yang kehilangan anak karena kelalaian pihak rumah sakit," ujarnya.

Dia juga membenarkan perawat AR sempat melaporkan dugaan penganiayaan tersebut ke kepolisian. "Saya sudah luruskan kejadian sebenarnya kepada pihak kepolisian," beber dia.

Di sisi lain, Direktur RSUD Bima drg Ihsan menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya pasien tersebut. Menurutnya, pihak rumah sakit telah melakukan penelusuran awal terhadap seluruh proses rujukan, mulai dari persiapan keberangkatan pasien, kesiapan ambulans beserta sarana penunjang, hingga pendampingan selama perjalanan.

Dia menegaskan evaluasi masih berlangsung sehingga rumah sakit belum dapat menyimpulkan penyebab meninggalnya pasien sebelum seluruh fakta diverifikasi.

Ihsan menegaskan, apabila ditemukan adanya ketidaksesuaian dengan standar operasional prosedur (SOP) maupun aspek pelayanan lainnya, RSUD Bima akan mengambil langkah sesuai ketentuan, termasuk melakukan pembinaan, evaluasi, dan perbaikan sistem pelayanan. "Masih on proses," katanya dihubungi Lombok Post.

Editor : Jelo Sangaji
#rsud bima #perawat #Bima #Penganiayaan