Makan Bersama Sambil Bernyanyi Lagu “Halo-halo Bandung” hingga “Madu dan Racun”
Sekelompok orang berusia lanjut warga Tiongkok ini senantiasa mencintai Indonesia sebagai tanah airnya. Indonesia tidak pernah bisa pudar dari hati mereka.
GUIQIAO adalah orang asli berdarah Tiongkok yang tidak lahir di dataran Tiongkok. Mereka bisa saja lahir di Indonesia atau negara lain. Dan pada akhirnya kembali ke Tiongkok.
‘’Nah, para Guiqiao Indonesia itu tetap mencintai Indonesia. Dan meski telah menetap di Tiongkok, kecintaan itu tidak pudar. Bahkan, di antara mereka ada yang masih fasih berbahasa Indonesia,’’ ujar Mr Lin Koordinator acara berkumpulnya Guiqiao Indonesia di Laibin Guangxi Tiongkok.
Lin menjelaskan, itulah rasa cinta sekelompok orang yang disebut Guiqiao atau orang-orang Tiongkok yang lahir di Indonesia, namun kembali lagi ke negeri Tiongkok.
‘’Guiqiao ini memilih kembali ke Tiongkok, karena pemerintah kala itu melarang orang asing memiliki kewarganegaraan ganda,’’ ujarnya.
Lin mengisahkan pada tahun 1950-an, mereka memilih pulang dan menjadi warga negara Tiongkok. ‘’Meski sekarang mereka tinggal di Tiongkok, namun kecintaannya kepada Indonesia tidak pernah hilang. Mereka juga menyukai masakan dan makanan Indonesia, seperti gado-gado dan nasi goreng,’’ jelasnya.
Mereka selalu mengingat Indonesia sepanjang hayatnya. Mereka ini tak akan pernah bisa melupakan Indonesia, karena memberinya kenangan di masa kecil. Mereka juga masih memiliki saudara di Indonesia.
Pada reuni Guiqiao Indonesia kali , mereka makan bersama dan bernyanyi lagu-lagu bertema Indonesia yang heroik seperti “Halo-halo Bandung” dan lagu popular “Madu dan Racun”.
Mereka amat fasih berbahasa Indonesia maupun sedikit bercakap dalam berbahasa daerah kelahiran mereka masing-masing.
Kontribusinya sangat luar biasa yang tetap cinta Indonesia, mereka mulai dari mempromosikan budaya hingga kuliner Indonesia. Mereka ikut membuat fondasi kuat untuk hubungan antar dua negara.
‘’Meski hidup Tiongkok, mereka ingin melihat Indonesia damai, karena di hati mereka hanya tersisa cinta,’’ tutup Mr Lin. (*/r5)
Editor : Alfian Yusni