LombokPost--Belakangan beredar informasi di media sosial mengenai kemungkinan kapal Israel memasuki pelabuhan Indonesia.
Menanggapi hal itu Juru Bicara Kementerian Luar Negeri, Lalu Muhamad Iqbal, memastikan bahwa otoritas terkait di Indonesia akan menolak jika ada kapal berbendera Israel memasuki pelabuhan di Indonesia.
"Dari dulu kita konsisten kalau ada kapal berbendera Israel mau masuk pelabuhan pasti kita tolak," ujar Lalu Iqbal yang mantan Dubes RI untuk Turki tersebut.
Meski demikian Lalu Iqbal juga mengakui bahwa sulit mengidentifikasi kapal berdasarkan kepemilikan. Karena dunia pelayaran internasional menganut rejim bendera.
"Dunia pelayaran itu kan menganut rejim bendera, termasuk Indonesia. Yang kita lihat benderanya. Kalau kepemilikan akan sulit kita identifikasi. Apalagi banyak perusahaan pelayaran kan sahamnya milik publik," papar Lalu Iqbal, yang putera asli Lombok tersebut.
Sejak perang di Gaza berlangsung 7 Oktober 2023, muncul perlawanan terhadap Israel di berbagai belahan dunia dengan melakukan boikot ekonomi.
Selain memboikot berbagai produk yang diproduksi perusahaan milik Yahudi Israel, sejumlah negara juga memboikot dengan mempersulit jalur perdagangan melalui laut.
Selain serangan yang dilakukan milisi Houti di Yaman terhadap kapal-kapal yang melintasi Laut Merah menuju Israel, sejumlah negara juga melakukan penutupan akses bagi kapal berbendera Israel yang mau memasuki pelabuhannya.
Beberapa sumber menyebutkan bahwa kerugian ekonomi yang dialami Israel akibat perang di Gaza hingga saat ini mencapai sekitar US$ 600 juta setiap minggunya atau setara dengan sekitar Rp 1 triliun.
Jika perang berlangsung hingga 8 bulan, diperkirakan Israel akan mengalami kerugian ekonomi sebesar US$ 50 miliar atau setara dengan Rp 750 triliun. Angka tersebut setara dengan 10% PDB Israel.
Kerugian ini disebabkan antara lain oleh menurunnya aktivitas produksi di industri, salah satunya akibat boikot dan gangguan terhadap jalur perdagangan. (zad)
Editor : Hidayatul Wathoni