LombokPost - Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan bergerak cepat menyikapi perang brutal Israel-Iran.
Lewat sambungan telepon pada Senin (16/6), keduanya kompak mengecam eskalasi kekerasan dan menyerukan penghentian segera permusuhan.
“Putin dan Erdogan menyatakan keprihatinan serius atas meningkatnya konflik Israel-Iran yang telah menewaskan ratusan orang,” bunyi pernyataan resmi Kremlin, dikutip Reuters.
Konflik bermula dari serangan udara Israel ke Iran dalam Operasi Raising Lion pada Jumat dini hari. Israel mengklaim serangan itu menyasar fasilitas nuklir dan militer.
Namun, serangan tersebut memicu kemarahan Iran yang langsung membalas dengan rudal ke wilayah Israel.
Iran balas serangan Israel dengan menghantam sejumlah kota, termasuk target militer. Hingga Senin malam, kedua negara terus melancarkan serangan.
Data dari Kementerian Kesehatan Iran mencatat sedikitnya 224 korban tewas, sebagian besar warga sipil. Sementara itu, pihak Israel melaporkan 24 orang tewas dan ratusan lainnya luka-luka.
Putin dan Erdogan menilai konflik ini berisiko menyeret kawasan Timur Tengah ke jurang perang besar.
Erdogan secara khusus menuding Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, sebagai sosok yang mengabaikan hukum internasional dan membahayakan sistem global.
“Kawasan tidak bisa lagi menanggung perang. Diplomasi adalah satu-satunya jalan keluar,” kata Erdogan, dikutip dari Daily Sabah.
Ia juga mengingatkan agar dunia tidak melupakan penderitaan warga Palestina di Gaza yang terus berlangsung di tengah krisis ini.
Putin menambahkan bahwa Rusia siap menjadi penengah, bila diperlukan. Ia juga menyebut usulan Moskow untuk menampung uranium Iran sebagai bahan bakar sipil masih terbuka, walaupun situasi kini semakin rumit.
Juru Bicara Kremlin, Dmitry Peskov, menegaskan bahwa Rusia ingin menghapus akar konflik, bukan hanya meredakan dampaknya. “Serangan militer justru memperburuk situasi,” ujarnya.
Konflik Israel-Iran juga menjadi sorotan Indonesia. Menteri Luar Negeri RI Sugiono menyerukan agar kedua pihak menahan diri dan menyelesaikan masalah lewat jalur damai.
Ia menyebut konflik ini akan dibahas dalam pertemuan Menteri Luar Negeri OKI di Istanbul pada 21-22 Juni.
“Kalau situasi terus memanas, kawasan Timur Tengah bisa makin tidak stabil,” kata Menlu Sugiono dalam konferensi pers di Singapura.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyebut serangan Israel sebagai pelanggaran berat hukum internasional dan mendesak negara-negara Islam untuk bersikap.
“Impunitas Israel mendorong agresi lebih lanjut,” kata Araghchi dalam percakapan telepon dengan Sekjen OKI Hissein Brahim Taha.
Sekjen OKI pun mengutuk eskalasi dan menyatakan organisasi akan bekerja sama dengan PBB untuk mencegah perang besar di kawasan.
Putin dan Erdogan kini menjadi harapan dunia untuk meredam konflik Israel-Iran yang makin membara.
Seruan gencatan senjata dan jalur diplomasi terus dikumandangkan sebelum semuanya terlambat. (***)
Editor : Alfian Yusni