Presiden AS Donald Trump secara resmi mengumumkan keterlibatan negaranya dalam perang Israel-Iran. Dalam pidato Sabtu malam (21/6) waktu setempat, Trump mengonfirmasi bahwa AS telah membombardir fasilitas nuklir Iran di Fordow, Natanz, dan Isfahan.
"Malam ini saya dapat melaporkan kepada dunia bahwa serangan itu sukses secara spektakuler," ujar Trump dalam pernyataannya.
Langkah militer ini menandai keterlibatan langsung Washington dalam konflik, yang sebelumnya berada pada posisi tekanan diplomatik dan sanksi ekonomi terhadap Teheran.
Respons PBB: Eskalasi Berbahaya
PBB memberikan respons cepat atas serangan AS terhadap fasilitas nuklir Iran. Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres, dalam pernyataan resminya menyebut aksi militer ini sebagai “eskalasi berbahaya” di kawasan yang sudah berada di ambang krisis.
"Saya sangat prihatin dengan penggunaan kekuatan oleh Amerika Serikat terhadap Iran hari ini. Ini merupakan ancaman langsung terhadap perdamaian dan keamanan internasional," ujar Guterres dalam unggahan resminya di laman X (sebelumnya Twitter).
Ia memperingatkan bahwa konflik ini berpotensi tak terkendali dan menimbulkan konsekuensi yang sangat buruk bagi warga sipil, kawasan, dan dunia.
Diplomasi Jadi Harapan Terakhir
Dalam pernyataannya, Guterres juga menekankan bahwa saat ini satu-satunya jalan ke depan adalah diplomasi. Ia mengimbau semua pihak untuk menahan diri dan segera kembali ke meja perundingan demi menghindari krisis global yang lebih luas.
Serangan AS terhadap Iran ini terjadi di tengah ketegangan nuklir dan dukungan terbuka AS terhadap agresi Israel ke wilayah Iran. Iran sendiri sebelumnya telah memperingatkan bahwa program nuklirnya murni untuk tujuan damai.
Editor : Redaksi Lombok Post