LombokPost – Dunia seolah sedang menahan napas. Ketegangan antara Iran dan Israel tidak hanya soal rudal atau serangan drone.
Ini soal senjata pemusnah massal dan siapa yang akan menekan tombol lebih dulu.
“Iran tidak lama lagi,” kata Agus Mustofa, penulis buku Best Seller Serial Diskusi Tasawuf Modern. Ia merujuk pada kemampuan nuklir Iran yang disebut-sebut sudah mendekati titik produksi senjata.
Meski ditekan habis-habisan oleh Amerika dan blok Barat, Iran tetap bertahan. Negara itu secara resmi masih terikat dalam perjanjian NPT (Non-Proliferation Treaty), sebuah kesepakatan global yang melarang negara non-nuklir membuat senjata nuklir.
Tapi banyak analis meyakini, Iran hanya tinggal selangkah lagi. “Terus ditekan oleh Amerika dan blok Barat dan diikat di dalam perjanjian NPT,” katanya.
Sebaliknya, Israel yang tidak ikut dalam perjanjian tersebut justru diduga telah lama memiliki gudang senjata nuklir rahasia. Meskipun tidak pernah mengakui secara resmi, banyak sumber intelijen internasional memperkirakan Israel memiliki 80 hingga 90 hulu ledak nuklir aktif.
“Israel itu meskipun tidak resmi dan sembunyi-sembunyi sesungguhnya dia sudah memiliki persenjataan nuklir itu,” ungkapnya.
Ketimpangan yang mengejutkan adalah kemampuan rudal balistik. Beberapa analis bahkan menilai teknologi peluru kendali Iran kini lebih unggul daripada milik Israel.
Dalam kondisi perang, ini bisa menjadi pembeda. “Iran memiliki kemampuan teknologi peluru kendali yang sangat hebat, lebih hebat dibandingkan yang dimiliki oleh Israel,” tegasnya.
Artinya, jika konflik memanas dan Israel merasa terdesak, penggunaan senjata nuklir bisa menjadi opsi terakhir. Dan bila itu terjadi, dunia bisa memasuki fase terkelam dalam sejarahnya.
“Kalau sampai Israel menggunakan hulu ledak nuklir itu maka dimungkinkan Rusia akan turun tangan, Cina akan turun tangan, dan Korea Utara akan turun tangan,” katanya lagi.
Jika satu saja dari negara nuklir melepaskan hulu ledaknya, efek domino akan tak terhindarkan. Amerika dipastikan akan membela Israel. Rusia dan China akan memihak Iran.
Negara-negara NATO bisa terseret. Dan Korea Utara? Mereka sudah lama berdiri di sisi yang berlawanan dengan Barat.
“Israel akan di-back up oleh Amerika dan oleh negara-negara Eropa yang juga memiliki hulu ledak nuklir itu,” ujarnya.
Editor : Lalu Mohammad Zaenudin