LombokPost - Ilmuwan nuklir dan cendekiawan muslim Agus Mustofa menjelaskan beda fundamental antara ruh dan jiwa.
Perdebatan seputar keberadaan jiwa dan ruh terus berlangsung, terutama ketika sudut pandang sains dan ateisme dipertemukan dalam ruang diskusi terbuka.
Dalam sebuah sesi Podcast God and Beyond, ilmuwan nuklir dan pemikir spiritual Indonesia, Agus Mustofa, memaparkan pandangannya secara lugas.
Ia menanggapi pertanyaan penting dari Afriyadi Yadi, seorang narasumber ateis, yang mempertanyakan apakah ruh dan jiwa benar-benar ada atau hanya efek dari aktivitas biologis otak manusia.
“Ada pertanyaan yang sangat menarik terkait dengan jiwa dan ruh dalam sudut pandang ateisme. Karena bagi orang-orang ateis, jiwa dan ruh itu tidak ada,” kata Agus Mustofa.
Ia menuturkan dalam pandangan orang-orang ateis, jiwa dan ruh itu sesungguhnya hanyalah efek biologis. "(Bagi orang ateis ruh atau jiwa itu) fungsi biologis dari keberadaan badan yang bersifat material," ujarnya.
Pandangan ini salah satunya yang dilontarkan Afriadi Yadi seorang ateis dalam podcast tersebut menyampaikan keraguan terhadap keberadaan ruh sebagai entitas imaterial yang terpisah dari otak.
“Jiwa itu kan ada karena fungsi dari otak. Maka konsekuensinya adalah ketika otak kita mati, maka jiwanya juga mati,"
Namun ia kemudian mulai mempertanyakan ulang pemahamannya setelah Agus Mustofa memisahkan dua istilah penting itu: ruh dan jiwa.
“Yang ternyata aku salah ya, karena biasanya (pendapat di luar) jiwa dan ruh itu disamakan ketika kita membahas ini,” ujar Afriyadi.
Afriyadi Yadi mengungkapkan ketertariannnya, karena Agus Mustofa ternyata memisahkan Ruh dan Jiwa sebagai dua entitas berbeda.
Menjawab itu, Agus Mustofa mengajak untuk memahami secara rasional, logis, dan analogis — salah satunya lewat ilustrasi robot.
Ia menjelaskan robot terdiri dari tiga bagian yakni hardwere atau badan kasar, softwere atau aplikasi, dan energi atau listrik. Dengan tiga bagian ini, robot dapat 'hidup'.
Menariknya, manusia pun demikian. Agus Mustofa mengatakan manusia terdiri atas tiga bagian pula. Ada hardwere berupa badan manusia, softwere berupa jiwa, dan energi untuk hidup berupa ruh.
Namun demikian Agus Mustofa menggaris bawahi, robot secanggih apapun masih kalah canggih dengan manusia karena walaupun robot terlihat 'hidup' namun tak punya kesadaran berbeda halnya dengan manusia.
Tetapi sebagai analogi, robot memiliki bagian atau lapis yang menyerupai manusia.
“Kalau kita mencoba memahami dalam sudut pandang yang logis, rasional, dan empiris... meskipun analogi ini tidak persis sama karena robot secanggih apa pun dia tidak hidup, dia tidak memiliki kesadaran,"
Menurut Agus Mustofa, perbedaan mendasar manusia dan robot adalah kesadaran.
“Tiga lapis yang tadi saya maksudkan, badan kasar robot kurang lebih jasad manusia. Software dari robot itu kurang lebih adalah jiwa manusia,"
Jiwa, menurut Agus Mustofa, seperti software yang bisa di-install atau di-uninstall. Ini terjadi lewat pendidikan, pengalaman, hingga lingkungan.
“Jiwa itu juga bisa di-install dan di-uninstall melalui pendidikan, pelatihan, experience, segala macam. Yang Alquran menggambarkan, awal itu ya kita tidak tahu apa-apa,"
Agus Mustofa menekankan bahwa dalam Alquran, yang mengalami perubahan adalah jiwa, bukan ruh.
“Jiwa itu memiliki level-level kualitas. Dan nanti bisa mengalami puncak dan kemudian mengalami penurunan,”
Penurunan ini terjadi secara biologis, seperti saat manusia menua atau mengalami gangguan saraf.
“Dengan penuaan, kerusakan sistem sarafnya dan sebagainya, itu digambarkan di dalam Alquran dan dibenarkan oleh data-data empiris bahwa jiwa sebagai fungsi itu sebetulnya ya seiring dengan badan itu,"
Sebelumnya, Agus Mustofa juga pernah menyampaikan, ruh adalah potensi murni yang netral, tidak terikat nilai baik atau buruk.
“Ruh itu sifatnya sekedar potensi dan tidak terikat sistem nilai. Anda tidak bisa menilai ruh baik atau buruk.”
Menurutnya, sifat seperti mendengar, melihat, dan berkehendak adalah kemampuan dasar ruhaniyah yang akan menjadi baik atau buruk tergantung pada bagaimana manusia menggunakannya.
Dengan penjelasan ini, Agus Mustofa menolak pandangan ruh adalah produk dari otak.
“Perbedaan antara manusia yang hidup, ciptaan Allah, dengan robot, ciptaan manusia adalah pada titik kesadarannya,"
Maka, meskipun otak mati dan jiwa sebagai fungsi bisa terhenti, ruh sebagai sumber kesadaran tetap eksis, karena bukan bagian dari sistem biologis.